Toko Online terpercaya www.iloveblue.net

Toko Online terpercaya www.iloveblue.net
Toko Online terpercaya www.iloveblue.net
Showing posts with label Artikel. Show all posts
Showing posts with label Artikel. Show all posts

Tuesday, 26 May 2009

Membangun Sinergisme dalam Pendidikan Anak Usia Dini

Ditulis oleh Drs. Harun Al Rasyid, M.si

Ahli psikologi perkembangan, Bredekamp, et all (1997:97) mengungkapkan bahwa pemberian pendidikan pada anak usia dini diakui sebagai periode yang sangat penting dalam membangun sumber daya manusia dan periode ini hanya datang sekali serta tidak dapat diulang lagi, sehingga stimulasi dini yang salah satunya adalah pendidikan mutlak diperlukan.

Lalu, pendidikan yang bagaimanakah yang diperlukan? Tentu saja pendidikan yang tidak sekedar mengejar target kurikulum, atau untuk mengejar keinginan masyarakat/orang tua, seperti kemampuan anak membaca, menulis dan berhitung secara maksimal, tetapi pendidikan yang sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan anak.

Pendidikan bagi anak usia dini telah berkembang luas, baik di negara maju maupun di negara yang sedang berkembang. Berbagai macam program pendidikan anak usia dini ini dikembangkan oleh pemerintah, swasta maupun masyarakat. Minat mengembangkan pendidikan anak usia dini sebenarnya bersumber dari lima macam pemikiran yaitu:

1. Meningkatkan tuntutan terhadap pengasuhan anak dari para ibu yang bekerja, yang berasal dari berbagai tingkatan sosial ekonomi
2. Adanya perhatian yang dikaitkan dengan produktivitas, persaingan yang bersifat internasional, permintaan tenaga kerja yang bersifat global, kesempatan kerja yang luas baik bagi wanita maupun bangsa manapun
3. Pandangan bahwa pengasuhan anak sebagai sesuatu kekuatan utama guna membantu para ibu untuk meningkatkan kualitasnya baik sebagai ibu maupun sebagai sumber daya manusia pada umumnya, sehingga dapat bersaing dalam pasar tenaga kerja
4. Adanya hasrat untuk meningkatkan kualitas anak sejak usia dini terutama bagi mereka yang orang tuanya kurang beruntung, antara lain yang kurang mampu memasukkan anak ke taman kanak-kanak Program untuk anak usia dini mempunyai dampak positif yang panjang terhadap peningkatan kualitas perkembangan anak (Mitchell,1989).

Pendidikan anak usia dini (PAUD) merupakan bagian integral dalam Sistem Pendidikan Nasional yang saat ini mendapat perhatian cukup besar dari pemerintah. Konsep PAUD merupakan adopsi dari konsep Early Child Care and Education (ECCE) yang juga merupakan bagian dari Early Child Development (ECD). Konsep ini membahas upaya peningkatan kualitas SDM dari sektor “hulu”, sejak anak usia 0 tahun bahkan sejak pra lahir hingga usia 8 tahun.

Teori lama yang merekomendasikan bahwa pendidikan baru dapat dimulai ketika anak telah berusia 7 tahun, kini terbantahkan. Hasil penelitian mutakhir dari para ahli neurologi, psikologi, dan paedagogi menganjurkan pentingnya pendidikan dilakukan sejak anak dilahirkan, bahkan sejak anak masih dalam kandungan ibunya. Justru pada masa-masa awal inilah yang merupakan masa emas (golden age) perkembangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 50% kapabilitas kecerdasan manusia terjadi pada tingkat kanak-kanak pada kurun waktu 4 tahun pertama sejak kelahirannya. Oleh karena itu penanganan anak dengan stimulasi pendidikan pada masa-masa usia tersebut harus optimal. Kemudian, 80% kecerdasan itu terjadi saat anak usia 8 tahun, dan titik kulminasinya terjadi pada saat mereka berusia 18 tahun. Setelah melewati masa perkembangan tersebut, maka berapa pun kapabilitas kecerdasan yang dicapai oleh masing-masing individu, tidak akan meningkat lagi.

Semua aspek perkembangan kecerdasan anak, baik motorik kasar, motorik halus, kemampuan non fisik, dan kemampuan spiritualnya dapat berkembang secara pesat apabila memperoleh stimulasi lingkungan secara cukup. Perkembangan yang terjadi pada masa ini sangat berpengaruh terhadap perkembangan anak selanjutnya.

Pola belajar yang diterapkan pada anak dini usia tidaklah sama dengan pola belajar pada anak usia SD ke atas. Untuk itu perlu diperhatikan oleh penyelenggara program pendidikan pada anak usia dini terutama sumber belajar atau tenaga pendidik dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar haruslah mengetahui bagaimana pola belajar pada anak usia dini.

Pola belajar pada anak usia dini haruslah dibangun berdasarkan atas pertumbuhan dan perkembangan anak secara tepat yang pelaksanaannya dikemas sesuai dengan dunia anak, yaitu bermain. yang merupakan kegiatan rutinitas yang sangat menyenangkan bagi anak, serta melalui bermainlah anak akan belajar.

Lebih lanjut, di dalam undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pendidikan anak usia dini dapat diselenggarakan dalam tiga jalur, yaitu jalur formal, non formal dan informal.

Pendidikan anak usia dini pada jalur formal antara lain diselenggarakan dalam bentuk taman kanak-kanak, raudlatul athfal, dan sejenisnya, sedangkan pada jalur non formal antara lain taman penitipan anak, kelompok bermain, taman pendidikan Al Quran, sekolah minggu dan sebagainya. Pada jalur informal, pendidikan anak usia dini ditangani langsung oleh keluarga dan lingkungan.

Lembaga pendidikan anak usia dini kini harus mulai menyelaraskan langkah dan memfokuskan perhatian pada anak-anak, bukan sekedar tuntutan masyarakat atau orang tua. Kurikulum dan proses pembelajaran harus diatur sedemikian rupa sehingga sesuai dengah dunia anak-anak. Para pendidiknya harus memiliki mindset tentang anak-anak dan dunianya, yang bukan miniatur orang dewasa. Keistimewaan dan keunikan anak harus mulai dihargai.

Semua lembaga pendidikan anak usia dini mulai berjalan seirama dalam upaya perluasan akses dan peningkatan kualitas pendidikan. Sinergisme perlu dibangun bersama-sama, sehingga seluruh anak usia dini dapat tertangani. Dengan sinergisme ini permasalahan pendidikan anak usia dini akan terasa ringan, karena kita semua memahami bahwa permasalahan di bidang ini amatlah kompleks, mulai dari banyaknya anak-anak dari kelompok masyarakat marginal yang belum terlayani, sulitnya akses karena permasalahan geografis, keterbatasan tenaga dari segi kualitas dan kuantitas, kurangnya fasilitas, sarana, prasarana dan sebagainya.

Lalu, bagaimana cara membangun sinergisme? Semua pihak harus duduk bersama-sama dan membahas satu kepentingan, yaitu anak, bukan yang lainnya. Ego sektoral dan kepentingan harus dikesampingkan. Semua harus kembali pada anak-anak dan undang-undang yang telah mengaturnya. Sinergisme hanya dapat dibangun ketika semua pihak menyadari bahwa tidak mungkin permasalahan pendidikan anak usia dini dapat ditangani sendiri-sendiri.

Bentuk-bentuk sinergi yang dapat dilakukakan antara lain :

1. Sharing dalam sumber daya manusia.
2. Sharing dalam konsep dan pemikiran, misalnya pengembangan model pembelajaran di PAUD, pengembangan APE, dan yang sejenisnya.
3. Sharing pendanaan kegiatan.
4. Sharing waktu dan tempat penyelenggaraan kegiatan, dan sebagainya.

Bentuk-bentuk sinergi ini disesuaikan dengan kondisi masing-masing mitra yang saling bekerjasama.

sumber: http://www.bpplsp-reg4.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id=40&Itemid=2

Monday, 18 May 2009

Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Berbasis Masyarakat

Menurut Departemen Pendidikan Nasional Indonesia; Pendidikan anak usia dini atau disingkat PAUD adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan dengan memberi rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.

Dengan tujuan utama membentuk anak Indonesia yang berkualitas, maka PAUD merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah dan masyarakat serta pemangku kepentingan lainnya. Diperlukan kesadaran serta program terpadu yang melibatkan masyarakat dan pemerintah untuk menjadikan pelaksanaan PAUD sebagai gerakan nasional.

Santana (4 tahun 5 bulan) di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta termasuk anak yang beruntung karena orangtua dan keluarganya memperhatikan perkembangannya dan memiliki kesempatan memilih Kelompok Bermain sesuai dengan keinginannya. Dari tiga pilihan yang diajukan orangtuanya, Santana memilih sekolah dengan label tiga bahasa (Indonesia, Inggris, Mandarin). Mungkin pilihannya sesuai dengan keinginannya dan hal itu membuatnya nyaman dan membuat perkembangan fisik (motorik halus dan kasar), kecerdasan, serta sosio emosionalnya pesat sekali.

Dari anak pemalu di depan orang banyak, Santana menjadi berani tampil. Pada setiap kesempatan ulang tahun teman, acara publik seperti lomba mewarnai, bahkan pada acara rapat antara orangtua dan komite sekolahpun Santana selalu maju untuk menyanyi.

Pendidikan yang diperolehnya di kelompok bermain telah merangsang potensinya dalam berbagai hal. Saat ini Santana bahkan berani memutuskan untuk berlatih menyanyi di luar kelompok bermainnya.

Sebaliknya, sebagian besar anak-anak di daerah terpencil maupun kota dengan keterbatasan akses serta ekonomi orangtua, belum beruntung karena pendidikan usia dini yang mereka terima belum optimal. Di dalam keluarga, konsentrasi orangtua terfokus sebagai pencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan primer sandang pangan.

Fakta di atas menunjukkan betapa pentingnya pendidikan anak usia dini di rumah dan kelompok bermain atau sekolah (TK/RA). Pendidikan tersebut akan menjadi pondasi bagi perkembangan anak baik akademis maupun non akademis di kemudian hari. Seberapa kokoh pondasi itu akan dibangun dan diletakkan sebagai dasar perkembangan anak ke masa depannya? Anak-anak di usia dini yang belum berdaya itu sangat mengandalkan peran orangtua, masyarakat, dan pemerintah.

Untuk mengatasi kesenjangan antra anak-anak yang beruntung dan anak-anak yang kurang beruntung, diperlukan kolaborasi antara masyarakat serta organisasi-organisasi yang ada dengan pemerintah. Katakanlah konsep ini sebagai Pendidikan Anak Usia Dini Berbasis Masyarakat. PAUD dapat dimasukkan ke beberapa program masyarakat yang sudah ada, misalnya lewat posyandu (pos pelayanan terpadu) dengan membentuk seksi pendidikan anak usia dini, juga dapat dimasukkan ke program PKK (pendidikan kesejahteraan keluarga). Alternatif lain jika dianggap posyandu dan PKK sudah syarat dengan beban rutin, adalah menjadikan PAUD bagian dari preventif Forum Penanganan Korban Kekerasan pada Perempuan dan Anak. Tidak mendapatkan hak yang layak diperoleh anak juga merupakan bagian kekerasan yang tersembunyi di dalam rumah tangga.

Salah satu program Kantor Pemberdayaan Perempuan DIY dan Bagian Kesra Pemerintah Kabupaten Sleman Sub Bagian Pemberdayaan Perempuan adalah penanganan kekerasan terutama kekerasan dalam rumah tangga. Tentu saja pemerintah tidak bisa menangani jenis kekerasan ini dengan aparat kepolisian dan keamanannya saja, melainkan melalui forum yang melibatkan lembaga swadaya masyarakat, organisasi massa, dan instansi pemerintah lintas sektor. Di Sleman, forum itu telah terbentuk meskipun masih mencari bentuk dan mekanisme penanganan korban secara lebih terpadu.

Alangkah baiknya jika salah satu divisi pada forum diarahkan untuk menangani isu PAUD seperti melakukan sosialisasi pentingnya PAUD, memberikan solusi PAUD murah dan berbasis masyarakat, bahkan mencarikan donatur bagi anak yang belum tersentuh PAUD karena kondisi khusus.

Dengan dijadikannya PAUD sebagai gerakan seperti halnya gerakan pemerintah dan masyarakat mencegah dan menangani kekerasan dalam rumah tangga dan kekerasan terhadap anak/pekerja anak maka kita bisa berharap bahwa setiap anak di bumi tercinta ini adalah anak-anak yang beruntung karena memiliki pondasi dasar yang cukup kuat untuk menjalani kehidupannya di masa mendatang.

Mursia Ekawati
FKIP Universitas Tidar Magelang
Jalan Kapten Suparman No. 39 Magelang
sumber: http://re-searchengines.com/0607ekawati.html

Bayi Itu Sudah Bisa Meniru, Bahkan Sejak Hari Pertama

Jika anda julurkan lidah ke arah bayi, bayi itu akan menjulurkan pula lidahnya kepada Anda. Bukalah mulut Anda, dan bayi pun akan membuka mulutnya. Sekilas kemampuan bayi seperti ini tampak biasa-biasa saja. Akan tetapi jika kita pikirkan sejenak, sebenarnya kemampuan ini sungguh menakjubkan.

Bukankah dalam rahim sama sekali tidak ada cermin? Jadi bayi belum pernah melihat wajahnya sendiri. Tapi bagaimana ia tahu, di mana lidahnya berada? Coba buktikan sendiri. Julurkan lidah Anda (jangan lupa lihat-lihat dulu sekeliling ya :) .

Cara untuk mengetahui bahwa Anda berhasil melakukannya ialah melalui kinestesia, yaitu suatu perasaan internal yang mendeteksi tubuh kita sendiri. Dan subhanallah, sungguh menarik sekali, setiap bayi mampu melakukan hal itu! Sekalipun ia belum pernah melihat bentuk wajahnya!

Karena itu pastilah bayi sudah memahami kesamaan antara perasaan internalnya dengan wajah eksternal yang ia lihat (yakni wajah Anda yang menjulurkan lidah padanya), yakni sebuah bentuk melingkar yang dari dalamnya keluar benda berwarna merah jambu panjang dan bergerak maju mundur. Bayi tidak hanya mampu melihat, namun ia juga mengenali bahwa wajah yang ia lihat mirip dengan wajahnya sendiri.

Kesalahan Yang Telah Berusia Lama

Selama bertahun-tahun “para ahli” berkeyakinan bahwa pikiran bayi kalah canggih dengan pikiran siput. Ketika lahir, bayi dianggap belum bisa melihat apa-apa. Mereka dimaklumi sebagai benar-benar “mahluk primitif” yang belum tahu apa-apa, tak bisa berbuat apa-apa. Secara harfiah, ia sama sekali “bukan apa-apa”.

Filosof abad ke-17 yang sangat termasyhur, John Locke, membuat sebuah metafora yang sampai hari ini masih ada dalam teks-teks referensi di sekolah-sekolah kita, bahwa setiap bayi adalah sebuah lembaran kosong. Terkenal sekali dengan ungkapan “tabula rasa”.

Pandangan ini sampai sekarang masih tetap hidup kuat dalam pemahaman kebanyakan orang tua. Maka banyak orang tua yang mengabaikan apa yang dipikirkan bayi dan anak-anaknya ketika mereka berperilaku. Bahkan tanpa sadar beberapa orang tua berani melakukan hubungan suami istri ketika berada di dekat bayinya. Mereka menganggap bayinya kan “tak tahu apa-apa”. Yang lebih banyak lagi bisa kita saksikan – mungkin juga di rumah-rumah kita sendiri- betapa banyak orang dewasa menonton televisi sambil menggendong bayinya. Padahal yang dilihat dan didengar itu adalah tentang kata-kata yang kasar, adegan-adegan kekerasan, atau lelucon maksiat yang murahan. Jangan-jangan ada pula yang nonton video porno sambil menyusui anaknya!

Riset psikologi perkembangan yang baru membuktikan bahwa pandangan bayi itu “tak tahu apa-apa” … sama sekali salah. Andrew Meltzoff, Ph.D, seorang professor psikologi di Universitas Washington, membuat penemuan yang mengagetkan sejak dua puluh tahun lalu. Ia membuktikan bahwa bayi mampu menirukan gerak manusia, bahkan sejak hari pertama!

Awalnya ia melakukan percobaan terhadap bayi usia 3 minggu. Agar dia yakin sekali bahwa bayi benar-benar melakukan peniruan, bukan “salah perkiraan” karena memang sulit membedakan ekspresi wajah bayi yang terus menerus berubah, Andrew merekam wajah-wajah bayi itu dalam videotape. Lalu dia menunjukkan rekaman-rekaman wajah bayi kepada orang lain, seseorang yang netral dan obyektif yang sama sekali tidak mengetahui apa yang telah dilihat oleh bayi ketika mereka memunculkan berbagai ekspresi wajah.

Professor Andrew berhasil membuktikan bahwa ada hubungan sistematis antara apa yang dilakukan bayi (yang dinilai oleh pengamat yang netral) dengan apa yang dilihat oleh si bayi (sehingga ia berekspresi tertentu).

Lebih jauh lagi, ia menunjukkan bahwa kemampuan meniru ini benar-benar adalah bawaan sejak lahir. Maka ia menyiapkan sebuah laboratorium di sebelah ruang pekerja di rumah sakit setempat dan meminta orangtua bayi agar memanggil dirinya jika si bayi hampir lahir. Selama setahun, dia terbangun pada tengah malam atau tergopoh-gopoh keluar dari sebuah rapat, terburu-buru lari ke rumah sakit, untuk mengetahui hasil lebih lanjut. Akhirnya ia berhasil menguji banyak bayi sebelum mereka berumur satu hari. Bayi termuda yang ia uji berusia hanya 42 menit. Bayi-bayi tersebut terbukti meniru gerak manusia!

Bayi dan anak-anak adalah seorang saintis,” tulis tiga orang professor psikologi terkenal, Alison Gopnik, Andrew N. Meltzoff dan Patricia K. Kuhl, dalam karya ilmiahnya, “The Scientist in the Crib: What Early Learning Tells Us About The Mind” (sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh penerbit Kaifa berjudul Keajaiban Otak Anak).

Laksana seorang ilmuwan hebat, setiap bayi menyelidiki sifat benda-benda di sekitarnya. Mereka berpikir, mengobservasi, dan bernalar. Ibarat psikolog mereka juga berusaha membaca pikiran orang-orang yang dijumpainya. Dia membuat perkiraan, mengujicobanya, mempertimbangkan bukti, lalu menarik kesimpulan, melakukan eksperimen lagi, memecahkan masalah, mengoreksi bila ternyata kesimpulan itu salah dan terus mencari kebenaran. Hanya saja memang, mereka tidak melakukan semua ini dengan cara yang sadar-diri sebagaimana para ilmuwan melakukannya. Mereka adalah saintis dalam tubuh kanak-kanak!

Karena itu marilah kita berhati-hati ketika kita berada di dekat bayi dan anak-anak kita. Tak terkecuali ketika menggendong bayi kita yang masih berumur beberapa hari. Mereka belajar dari apapun yang kita ucapkan, yang kita lakukan. Semoga …


*** Penulis: Nilna Iqbal
sumber: http://pustakanilna.com/bayi-itu-sudah-bisa-meniru-bahkan-sejak-hari-pertama.html/

Mengajak Bayi Bicara Itu Penting Lho!

Ah, bagaimana mungkin? Bayi, kan, belum bisa berbicara. Jangan-jangan nanti dikira enggak waras. Mengapa penting mengajak bayi berbicara?

Jangan takut dianggap tak waras kala Anda mengajak si mungil berbicara. Bayi memang belum bisa berkata-kata, tapi tak berarti ia tak mampu untuk diajak berbicara.

Para ahli menganjurkan orangtua agar mulai mengajak berbicara anak sejak ia lahir dan jangan pernah berhenti. Biasakan untuk selalu mengomentari apa saja yang Anda lakukan terhadap si bayi. Misalnya, saat mengganti popok, memandikan, menyusui, dan sebagainya. Katakan padanya setiap saat tentang apa saja yang Anda lihat di sekeliling Anda, maupun apa yang sedang Anda lakukan untuk diri sendiri seperti membaca atau bahkan memasak.

Pokoknya, ngomonglah apa saja kepada si bayi. Tataplah matanya dan Anda pun akan takjub melihat betapa ia sangat menaruh perhatian selama Anda berbicara. Seringkali ia bereaksi terhadap apa yang Anda katakan, seperti menjerit kesenangan atau cemberut kala ada yang tak disukainya. Tak percaya? Silakan Anda buktikan.

PENDENGARAN TAJAM

Belajar berbicara, seperti dikatakan Dr. Adi Tagor, Sp.A., DPH dari RS Pondok Indah Jakarta, merupakan kunci penting untuk mengarahkan si bayi pada kemampuannya berbahasa yang timbul setelah usia setahun sampai tiga tahun. “Tujuannya mendorong perkembangan komunikasi verbal atau linguistic capability anak,” jelasnya.

Pada tahap awal, bayi memulai “pelajaran” berbicara dengan mendengarkan. Karena itu, Adi Tagor menasehati, “Biarkan bayi mendengarkan apa saja yang Anda katakan. Inilah langkah awal untuk memberinya pemahaman. Bila bayi banyak mendengar, ia akan cepat belajar bicara.” Kemampuan mendengar suara pada bayi, sudah ada sejak ia masih di kandungan, pada sekitar usia 3-4 bulan kehamilan. “Ada faktor intrinsik yang mengenal irama, kekerasan suara, frekuensi, dan nada-nada suara. Karena itu, bayi bisa menerima sinyal-sinyal meskipun belum mengerti,” terangnya.

Setelah lahir, pendengaran bayi menjadi sangat peka. Suara menjadi jelas terdengar karena tak terhalang air ketuban maupun dinding perut ibu. Nah, lewat sinyal-sinyal verbal yang dilemparkan (sinyal audio), bayi akan memberi reaksi. “Pada bayi lahir sampai usia 3-6 bulan, ada yang dinamakan refleks Moro. Jika mendengar suara keras, bayi akan bereaksi kaget dengan tangan ke atas. Bila ia tak bereaksi, mesti dicurigai si bayi tuli. Normalnya, reaksi ini menghilang di atas usia 6 bulan,” tutur Adi Tagor.

Ia pun bukan cuma mampu mendengar dengan jelas setelah lahir, tetapi juga bisa melihat. Kedua indera ini (audio-visual) sangat penting baginya untuk mengembangkan intelektualitasnya. Pada bayi baru lahir, karena matanya belum jelas melihat, maka beri jarak 30 centimeter agar ia bisa melihat ekspresi Anda kala Anda berbicara dengannya.

Dalam perkembangan selanjutnya, belajar berbicara sangat penting dalam rangka pengenalan lingkungannya. Sebab itulah saat mengajaknya bicara, berikan pula banyak rangsangan pada semua panca indera bayi. Sambil bicara, misalnya, pegang atau elus tangannya (indera raba-sentuh). Dengan memfungsikan seluruh panca inderanya, bayi akan mengenal keinginannya dan kemudian dapat mengungkapkannya setelah ia mampu berbicara.

MENIRU

Satu hal penting yang harus diketahui para orangtua, kata Adi Tagor, bayi sangat suka menirukan suara. Dengan mengajaknya banyak bicara, ia akan makin banyak mengenal kata, terutama warna (timbre), nada, dan lagu/intonasi verbal. Semua ini akan sangat membantu perkembangan berbicaranya.

Di sisi lain, bayi juga senang bila Anda menirukan apa yang ia katakan. Kala ia bersuara, “Uuu,” misalnya, tirukan dan ulangi kepadanya. Begitu pun jika ia bersuara, “Aaa.” Permainan menirukan ini akan menjadi dasar bagi bayi untuk menirukan bahasa Anda kelak.

Lantaran itu, lulusan FKUI tahun 1963 ini menganjurkan, Anda hendaknya berbicara dengan menggunakan bahasa yang benar, tidak cadel. “Jika bayi menerima sinyal audionya enggak baik atau tak jelas, maka proses keluaran (output) pun akan jelek. Seperti memfotokopi sesuatu dokumen yang jelek,” paparnya.

Selain itu, dengan menggunakan bahasa yang benar dan jelas ucapannya, di kemudian hari Anda tak perlu repot-repot melakukan “pembetulan” kata-kata yang digunakan si kecil. Sebaliknya, si kecil pun tak akan mengalami kesulitan berkomunikasi dengan lingkungannya.

PERKEMBANGAN BICARA

Sejak usia 2 bulan, terang Adi Tagor, bayi sudah bisa menirukan tinggi rendah dan lagu atau intonasi suara kita. Ia pun dapat membedakan suara satu dengan lainnya, memberi respon dengan tersenyum atau tertawa. Sampai usia 6 bulan, tampak pada bayi yang dinamakan cannonic babbling, yakni lontaran-lontaran suara atau ocehan.

Di usia 8 bulan, ia sudah mengerti beberapa suara dan kata. Hal ini sangat berguna untuk membantu perkembangan pemahamannya. Ia pun mulai bisa berteriak untuk mencari perhatian, berespon kala namanya dipanggil, dan tertarik saat ada orang berbicara meski tak langsung tertuju pada dirinya.

Di usia 9 bulan, normalnya si bayi sudah bisa bicara dalam arti word (kata) seperti “mama”, “mimi”, “pus”, yaitu nama yang merujuk kepada sesuatu maksud atau benda tertentu. Setelah umur setahun lebih, ia memiliki paling banyak 10-20 kata. “Lebih banyak dari itu berarti lebih bagus brain development-nya,” ujar Adi Tagor.

Bila konsentrasinya mulai ditujukan pada “pelajaran” berjalan, maka untuk sementara kemajuan berbicaranya menurun. Kendati demikian, tutur Adi Tagor, “Perkembangan bahasa setiap bayi tak selalu sama. Ini tergantung berbagai aspek, yaitu aspek genetik perkembangan fisik yang berkaitan dengan kemampuan berbicara dan kemampuan intelektualitas, serta rangsangan dari lingkungan.” Karena itu, lulusan Public Health National University of Singapore ini menekankan pentingnya peran ayah, ibu, dan orang lain di sekeliling si bayi untuk selalu mengajaknya bicara.

RANGSANGAN DINI

Tapi bagaimana jika si bayi tak juga menunjukkan respon untuk berbicara kala Anda mengajaknya ngobrol? Menurut Adi Tagor, ada beberapa sebab. Boleh jadi karena pendengarannya mengalami gangguan atau malah sama sekali tak bisa mendengar alias tuli. Bisa pula karena perkembangan otaknya (brain development) yang terganggu, sehingga perbendaharaan kosa katanya sangat minim.

Kemungkinan lain, ia menderita autisma, yakni ketidakmampuan berkomunikasi dengan lingkungan, asyik dengan dirinya sendiri, dan tertutup terhadap lingkungan.

Tapi Anda jangan panik dulu! Sejauh anak menirukan atau tak berhasil menirukan ucapan Anda, kemungkinan besar ia tak mengalami gangguan apapun. Yang penting, ia tetap menunjukkan kemampuannya berkomunikasi dengan lingkungan. Misalnya dengan menggunakan bahasa isyarat (body language), menunjuk sesuatu yang diinginkan atau mendorong sesuatu untuk menjauhkan dari yang tak disukainya.

Anda harus mendukung “bahasa khusus” tersebut bahwa kita mengerti apa yang dimaksud si bayi. Tentu saja tanpa melupakan tujuan akhirnya, yaitu percakapan yang sebenarnya. Jadi, manakala si bayi menunjuk pada botol susu, misalnya, jangan langsung membuatkannya susu dan kemudian memberikannya. Lebih baik tanyakan dulu, “Adi mau susu?” Tunggulah responnya. Jika ia mengerti pertanyaan Anda, ia mungkin akan mengangguk atau kembali menunjuk botol susu sambil mengeluarkan suara yang berarti, “Ya, Adi mau susu.”

Beberapa anak pada tahap ini hanya sulit untuk membentuk kata-kata. Hal ini biasanya akan terus berlanjut sampai masa prasekolah. Kadang sampai masa Taman Kanak-kanak atau kelas satu Sekolah Dasar, bila Anda tak segera mengatasinya. Nah, untuk mencegah keterlambatan berbicara, lakukan rangsangan dini (early stimulation), yakni membawa si bayi berkonsultasi ke klinik tumbuh kembang.

Pilihan lain, masukkan ia ke “sekolah”. “Bayi usia 6 bulan sudah bisa dimasukkan ke play group dini untuk peer education,” ujar Adi Tagor. Anak ditarik pada sebayanya (peer stimulation), sehingga belajarnya akan lebih mudah, karena ada rasa perlu bersaing dan ingin sama dengan teman sebaya.
Dedeh Kurniasih-nakita

sumber: http://anakbayi.com/artikel/mengajak-bayi-bicara-itu-penting-lho

Tips Mengajak Bicara Pada Bayi

1. Jangan Gunakan Kata Ganti
Bayi kecil masih sulit memahami “aku”, “saya”, “kamu”, atau “dia”. Itu bisa berarti ayah, ibu, atau nenek, atau bahkan dirinya sendiri, tergantung dari siapa yang mengajaknya berbicara.

Jadi, sebut diri Anda sebagai “Ibu”, “Mama”, atau “Bunda”, tergantung sebutan yang Anda pakai untuk membahasakan diri Anda kepada si bayi. Begitupun sebutan “Ayah”, “Kakek”, “Nenek”, dan lainnya. Anda dan orang lain pun harus menyebut atau memanggil si bayi dengan namanya.

2. Ajukan Banyak Pertanyaan
Penelitian menunjukkan, anak yang orangtuanya banyak berbicara “dengan” mereka dan bukan “kepada” mereka, akan belajar bicara lebih dini. Jadi, beri kesempatan si bayi untuk mengeluarkan suara, apapun jenis suaranya. Salah satunya dengan mengajukan pertanyaan.

Pertanyaannya bisa macam-macam dan berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Diamkan sebentar setelah Anda mengajukan satu pertanyaan. Tunggu bagaimana reaksinya yang ditunjukkan dengan mengeluarkan berbagai suara. Kala ia merespon, balas kembali. Jikapun ia tak memberi respon, Anda tak usah kecewa. Ajukan saja pertanyaan yang lain.

3. Gunakan Bahasa/Kata Sederhana
Anda boleh menggunakan bahasa bayi seperti “pus” untuk kucing atau “guk guk” untuk anjing, dan lainnya. Yang penting, nantinya Anda menggunakan kata yang sebenarnya. Bahasa bayi, menurut Adi Tagor, tetap bahasa. Hanya artikulasinya lebih sederhana. “Word atau kata bayi tak harus sempurna. Asal ia bisa mengidentifikasikan pada satu benda,” terangnya.

Jadi, jangan paksa si bayi mengucapkan kata yang sulit. Kata “mama” dan “papa”, misalnya, lebih mudah bagi bayi ketimbang “ibu” dan “ayah”. Baik dari segi linguistik maupun fungsi susunannya.

Berbicaralah lebih lambat dan jelas dengan lagu/intonasi yang menyenangkan. Sehingga, si bayi mendapat kesempatan untuk menangkap kata-kata itu dan memahaminya. “Karena semua panca indera baru mengenal, kita beri dosis pelan-pelan. Bicaralah lembut dan jangan bertengkar di depan bayi. Paling cepat usia 2 minggu bayi sudah punya keinginan berkomunikasi. Reaksinya ketawa, dia menangkap dan mencoba meniru, lalu mengoceh. Malah usia sebulan ia sudah bisa mengoceh,” papar Adi Tagor.

4. Beri Rasa Tenang
Bayi memiliki bahasa suara instinctual. Artinya, secara naluri ia bisa tahu suara-suara kasih sayang atau bukan. Umumnya ini berhubungan dengan keras-lembutnya suara. Karena itu, jangan bicara pada bayi dengan mengolok atau mengejek, marah, dan kasar. Tapi berilah pujian dengan tulus.

“Kemampuan instinctual sudah ada pada usia 1,5 – 2 bulan. Lewat kedekatan, misalnya dalam gendongan ibu dan lewat suara-suara,” terang Adi Tagor. Perasaan ketenangan yang diperoleh saat ini memberi sumbangan pada kemahiran berbahasa atau kemampuan berbahasa yang tumbuh pesat setelah usia setahun.

5. Gunakan Musik Atau Menyanyi
Jangan khawatir bila suara Anda sumbang. Bayi tak akan peduli. Ia akan senang dengan apa pun yang Anda nyanyikan atau musik yang Anda perdengarkan. Umumnya lagu anak-anak bisa diterima oleh bayi. Sambil menyanyi, sertai pula dengan gerakan-gerakan tangan sehingga lebih memberinya makna.

Sering-seringlah mengulangi lagu atau pantun anak setiap hari kendati Anda sudah bosan. Selain si bayi memang suka pengulangan, juga akan membantu proses belajarnya. Ia akan terangsang untuk menirukan meski artinya belum ia mengerti. Pengulangan juga akan membantu bayi mengenali suara-suara khusus. “Mengenal orang lewat timbre atau warna suara, artikulasi, lagu-lagu, intonasi, juga bisa membuat si bayi meniru intonasi bahasa itu,” kata Adi Tagor.

6. Pusatkan Pada Kata-kata Tunggal

Setelah si bayi makin besar, mulailah memberi tekanan pada kata-kata tunggal. Misal, “Sekarang Mama akan mengganti popok Adit,” sambil Anda mengangkat dan menunjukkan popok kepadanya, “Popok, ini popok Adit.” Atau saat Anda berkata, “Sekarang Mama mau membuat jus melon untuk Adit,” lalu angkat melon itu dan tunjukkan, “Melon. Ini buah melon.”

Tetaplah berbicara dengan bahasa sederhana, jelas, dan lambat. Beri tekanan pada kata-kata yang sering dipakai dalam hidup bayi sehari-hari. Selalu berhenti sebentar sebelum Anda mengatakan kata selanjutnya, agar bayi punya banyak waktu untuk mengendapkan kata-kata Anda.

7. Gunakan Buku & Mainan
Bayi usia di atas 3 bulan sudah bisa diajak “membaca”. Gunakan buku cerita bergambar, ia pasti akan tertarik. Tunjukkan gambar-gambar itu sambil dijelaskan. Lalu tanyakan, “Mana bola?”, misalnya. Kelak ia akan mampu menunjukkan gambarnya.

Bisa pula dengan menggunakan mainan. Kebanyakan bayi sejak umur 6 bulan suka melihat wajahnya di depan cermin, lalu ia akan mengeluarkan suara-suara dari mulutnya. Beri ia mainan cermin kecil yang pinggirannya terbuat dari plastik. Tapi hati-hati, jangan biarkan ia bermain cermin sendirian.

Jika usianya sudah mencapai 12 bulan, Anda dapat memberinya telepon-teleponan atau boneka yang bisa bicara. Ini akan mendorongnya untuk bercakap-cakap.

8. Kalimat Perintah
Penting bagi bayi untuk belajar mengikuti perintah sederhana. Misalnya, “Cium Mama,” atau “Lambaikan tangan,” atau “Tolong berikan boneka itu pada Mama,” dan sebagainya. Tentu ia tak akan segera melakukan perintah Anda. Dengan pengulangan sambil memberi contoh, lama-lama ia akan melakukannya. Tapi kalau ia sudah “mahir”, sebaiknya Anda jangan tergoda untuk memperlakukan ia bak “ikan lumba-lumba” yang sudah dilatih dan meminta ia untuk melakukan “pertunjukan” mutakhirnya setiap kali ada pengunjung.

Dedeh
sumber: http://anakbayi.com/artikel/tips-mengajak-bicara-pada-bayi

Saturday, 16 May 2009

Kiat Mengajarkan Matematika Kepada Bayi Berusia O – 1 Tahun

Bersamaan mulai berfungsinya mata seorang bayi dengan normal, sekaligus melihat fisik sekitarnya, proses pengajaran matematika sesungguhnya sedang berlangsung. Karena apa yang dilihatnya jelas berkaitan “batasan-batasan benda”, yang gilirannya pada “ukuran” dan “satuan”. Kemudian diperkuat sikap bermanja sang ibu dengan memperlihatkan benda-benda ke hadapannya, sebagaimana dalam usaha membuat si bayi beraksi.

Namun mengingat pamor matematika cenderung untuk konsumsi usia sekolah, sehingga apa yang dilakukan mereka itu seakan-akan tidak berkaitan dengan matematika. Akibatnya mereka tidak serius, dalam arti, bila ada kesempatan saja. Apalagi adanya predikat “jelimet”, “komplek”, dan “susah” yang dilekatkan pada tubuh matematika, tentu semakin membuat ibu tidak memprioritaskannya dalam jadwal pengasuhan.

Bila seorang ibu sudah bisa menerima perilakunya seperti itu sebagai proses pengajaran matematika juga, tentu akan semakin terangsang memberikan input kepada bayinya. Sekarang tinggal pada metode, bagaimana urutan prioritasnya ? Jangan sampai yang lambat dicerna didulukan ketimbang yang cepat ditangkap, karena itu namanya meloncat.

Nah … berikut ini akan disampaikan beberapa kiatnya (kita batasi pada aritmatika : salah satu cabang dari Matematika) “MEMPERLIHATKAN BOLA”

Perlihatkanlah sejumlah bola dengan beberapa kali pindah posisi, yang berwarna gelap dan berbahan sama. Diameternya lima ukuran saja dulu, 1 cm s/d 5 cm, yang rasanya standar dengan daya penglihatannya. Bukankah puting susu dan daerah hitam pada payudara, yang umumnya sering dilihat bayi ketika mulai menyusu, sekitar itu juga ?

Penampilan awalnya hendaknya berurutan dengan selisih waktu yang cukup. Tampilan acak dilakukan bila bayi sudah akrab. Pada waktunya timbul kesan adanya perbedaan dan persamaan, yakni ketika semuanya diperlihatkan, serta membandingkan besar kecilnya. Dipilih lingkaran mengingat kesempurnaan, kesederhanaan, dan keteraturannya, meskipun diproyeksikan ke bidang, sifat yang tidak dimiliki bangun lainnya.

Satu ukuran yang warnanya berlainan pun boleh, asal tajam serta sudah populer pada diri manusia sepanjang hidupnya. Hitam, hijau, merah, biru, dan kuning, misalkan. Mana sajalah dulu yang dipakai. Substansinya hampir sama juga, hanya jenisnya lain. Ketika tahap sekaligus, pengertian lainnya muncul pada bayi, tepatnya kaitan warna, ukuran, dan satuan melalui penggabungan dua macam input monumental yang sudah dikuasainya.

Pakailah lima bola berdiameter sama serta bisa digenggam. Sebanyak lima kali diperlihatkan, yang masing-masing diambil satu, …, dan lima. Ini untuk pengurangan. Sebaliknya penjumlahan dengan menambahkan satu, …, sampai empat pada bola yang tergenggam. Mengingat ciri khas pada setiap jumlah bola yang sering dilihatnya, bayi pun akan melihat kejanggalannya ketika dikurangi atau ditambah. Intersan serupa yang muncul sebentar-sebentar membuatnya semakin memahami hakikat “bertambah” dan “berkurang”, yang ditandai perubahan luas kelompok. Apalagi pada peragaan bola yang diameter dan warnanya beragam. Pemahamannya tidak lagi terikat dengan ukuran, tetapi pada jumlah bola yang tampak.

Adanya perasaan “terpisah bila sendiri” dan “bersama saat digendong”, yang sudah muncul sebelumnya, sedikit-banyak ikut mempercepat pemahaman tersebut. Bila sudah maksimal barulah bangun lain dilibatkan yang kerumitannya setingkat di atas bola, yaitu kubus, mengingat ketiga sifat bola tersebut masih terkandung juga di dalamnya. Proses pengajarannya sama. Hanya waktunya semakin pendek karena formulanya sudah terjaring pada otak bayi dalam pengajaran bola. Tinggal mengaplikasikanya pada kubus. Bak mudahnya siswa SD menjawab “2 mangga + 3 mangga” di rumah hanya karena sudah memahami hakikat “4 permen + 1 permen” di sekolah. Bisa diteruskan dengan menampilkan keduanya, kotak dan bola, dalam setiap peragaan. Ukuran dan warna tidak perlu dipersoalkan lagi, karena yang dibahas terbatas pada Aritmatika. Masalah jumlah sebaiknya tidak beranjak dari lima, agar semakin memperkuat basis intelektualnya. Toh nanti akan terangsang untuk mempertanyakan objek dengan jumlah berikutnya.

Akhirnya bayi akan benar-benar menganggap “gabungan” dan “pisahan” bisa dilakukan dengan benda apa saja. Terutama setelah bangun-bangun lainnya diperagakan. Pengertiannya tidak akan terpaku pada seragam atau beragam. Yang penting tampak langsung. Misalkan, setelah melihat dua bola dan tiga kotak di meja, yang penyimpanannya dengan tenggang waktu beberapa detik, ia pun mengerti adanya lima buah benda. Tentu saja dalam setiap pengajaran diselingi dengan mengajak bayi melihat benda-benda yang mudah diinderainya di berbagai ruang di rumah. Selesai memperagakan “dua bola”, misalnya, bisa dilanjutkan dengan memperlihatkan kedua mata kita. Pokoknya yang sepadan serta sering tampak.

Tiada lain untuk membentuk karakter “pengasosiasian”, sehingga terasalah, apa yang diajarkan terhubungkan dengan apa yang dilihatnya. Terang saja bila dua lemari yang diperlihatkan akan susah, karena matanya belum sanggup dipakai untuk melihatnya sekaligus. Bisa-bisa ia memandangnya sebagai satu benda saja. Berarti tidak nyambung. Dua kaki pun sama, mengingat jarang tampak, sehingga kurang ampuh untuk memperkokoh pengertian. Lagi pula jarang orangtua memperlihatkan kakinya. Terlihat oleh bayi pun mungkin tidak.

“MENYERTAI KEHIDUPAN BAYI”

Jadi pengajaran ini dimaksudkan untuk menyertai kehidupan bayi sehari-hari, khususnya dalam memandang benda-benda, serta merangsangnya menghubungkan satu sama lain. Bayi yang sudah sering melihat payudara ibunya, maka dengan peragaan “dua bola” dan “tiga kotak”, masing-masing segera terbayang olehnya akan “persamaan” atau “perbedaan” intuisinya. Sebaliknya bila tidak, bayangan itu memang akan muncul juga. Tetapi tidak akan secepat itu. Persis dengan dua WNI yang ber-IQ sama disuruh mengumpulkan sejumlah kata dengan awalan huruf tertentu. Apakah sama cepat bila salah satunya menggunakan kamus ? Tidak toh ! Ingat ! Kemampuan menyerap pengajaran matematika pada siswa kelas I SD tidak hanya tergantung tingkat kecerdasan, juga pengalaman era pra sekolah berupa frekwensi pengamatan objek- objek melalui peragaan seperti contoh di atas di samping langsung terhadap objek-objek sekitarnya.

Tidak heranlah bila banyak ilmuwan berkata bahwa banyaknya memori semacam itu terpatri pada bayi akan mempengaruhi daya : kreatif, kritis, atau aktifnya kelak. Terlebih otak saat itu sangat ampuh untuk merekam. Sesungguhnya “masih bayi” tidak tepat dijadikan alasan untuk menangguhkannya. Mendingan alasan “takut salah”. Tetapi terakhir ini perlu ditindaklanjuti dengan mencari metodenya. Bila diam saja itu namanya nrimo !

“BERAKOMODASI DENGAN FISIK/MENTAL BAYI”
Hanya sebagai konsekwensi fisik/mental bayi masih rawan, caranya harus serba telaten. Dengan kata lain, sesuai dengan karakteristik khasnya. Bagaimana memanjakan dan mencermati dalam memandikan, membobokan, dan menyusui demikian juga hendaknya dengan pengajaran matematika.

Jangan coba-coba berpedoman pada sistem untuk anak usia sekolah. Metode TK pun belum saatnya dipakai. Pokoknya sesuaikan saja dengan dunianya pada usia tersebut. Waktunya harus tepat, ketika badannya sedang bugar dan wajahnya sedang ceria. Syukur-syukur kamar pun tenang dan adem. Jangan sampai alat peragaannya menimpa badan, apalagi mukanya, karena dikhawatirkan menimbulkan trauma, yang gilirannya bersikap kapok. Taroklah terjadi juga. Pertimbangkanlah mencari alternatif sepadan. Misalkan warnanya diganti. Bila bayi tiba-tiba rewel segera hentikan. Ikuti dulu kemauannya. Apakah mau digendong, tidur, atau menyusu ? Bisa juga karena popoknya kurang memuaskan atau terkena kencing. Pokoknya kita harus mempunyai kira-kira, kapan si bayi dalam kondisi prima dan gembira. Untuk itu pribadi khasnya harus dipahami pada berbagai suasana.

“MEMPERDENGARKAN ANGKA”

Sebutan angka, satu, dua, dan seterusnya,cukup diperdengarkan secara berurutan, pelan, dan bernada. Tanpa itu akan memberi kesan heboh, kaku, dan marah, yang bisa membuatnya terkejut dan menangis, sehingga tidak termakan sedikit pun.

Mengingat pendengaran bayi sudah berfungsi ketika masih dalam rahim, berarti itu bisa dilakukan sejak lahir. Memang mulanya tidak akan mengerti juga. Tetapi karena sering didengar, akan irama verbal akan terekam juga. Berarti kelak semakin mudahlah bayi mengucapkannya ketika sudah bisa berbicara. Tinggal nanti mengaplikasikannya ke sejumlah benda yang terkait, sehingga ia pun akan mengerti, apa yang dimaksud dengan masing- masing. Proses pengajaran ini bisa dilakukan setelah usianya setahun. Semua itu akan memberikan kredit point terhadap wawasan intelektual. Substansinya tidak bisa dianggap kecil. Demikian juga terhadap kemampuannya bergulat seputar matematika di bangku sekolah. Sering kita lihat beberapa mainan/makanan kesukaan bayi berusia dua tahun diambil saudaranya secara diam-diam. Reaksinya beragam, “saat itu juga”, “beberapa detik kemudian”, atau “tidak sama sekali”. Ini mengindikasikan daya hitungnya yang berlainan, terlepas pelit-sosial, takut-berani, dan cuek-pedulinya. Celakanya bila sampai dilakukan orang luar, sementara harganya mahal dan nilainya tinggi. Jadi sesungguhnya dengan pendidikan sejak lahir itu akan memperbesar “daya kritis” di kemudian hari, khususnya sikap tanggap terhadap perubahan hak miliknya.

“MILYARAN NEURON BAYI”

Sejak lahir otak manusia yang terdiri dari milyaran neuron itu sudah siap dianyam menjadi jalinan akal melalui masukan berbagai fenomena yang datang dari kehidupannya sehari-hari. Jadi tiada alasan untuk memisahkan bayi dengan matematika sampai usia sekolah, mengingat keduanya sudah berintegrasi otomatis sejak dini. Walaupun sifatnya “autodidak”, berdasarkan pengideraan sehari- hari, namun dasar-dasar pengajaran matematika sudah diperolehnya, yakni yang berlangsung secara alamiah. Warna iramanya perlu dikenali sebagai referensi. Kemudian dikembangkan dengan memperkenalkan materi pengajaran yang kira- kira akan membuat si bayi merasakan adanya sambungan memori.

Taroklah bayi sudah sering melihat benda berjumlah “satu”, “dua”, dan “tiga”. Bukan berarti materi selanjutnya dengan lambang bilangan “empat”, karena akan bengong, tetapi dengan memperlihatkan benda yang jumlahnya “empat”, agar perbendaharaan memorinya semakin banyak. Tanpa memperhitungkan irama, itu ibarat seorang guru TK yang menyanyikan sejumlah lagu, tetapi masing-masing hanya pada bait pertama, dengan alasan, bisa dilanjutkan di rumah. Nah … bagaimana pun setiap muridnya akan merasa kurang sreg atau belum lengkap. Perasaan kecewa seperti inilah membawa mereka malas mendengarkan, apalagi mengikutinya.

“PENUTUP”

Akhirnya berpulang pada antusias mereka yang berkompeten untuk merintis sampai mengwujudkannya sebagai budaya pendidikan segmen matematika di kalangan bayi baru lahir. Maka seyogyanya dipikirkan sejak dini. (Nasrullah, bidang studi : Reformasi Sains Matematika Teknologi)

Nasrullah Idris
Jl H Samsudin No 1
Bandung 40252
Indonesia
sumber: http://re-searchengines.com/nidris.html

Menengok PAUD Menuju Generasi Super

oleh: Mohammad Muchsin
Pengurus PAUD Pandawa Lima dan Pemerhati Pendidikan

Hingar bingar ujian nasional (Unas) tahun ini mulai redup setelah diumumkannya hasil unas mulai tingkat sekolah dasar hingga tingkat menengah atas. Kini kita menyongsong tahun ajaran baru yang harus lebih baik dari tahun sebelumnya. Depdiknas dengan kepercayaan dirinya tetap menjadikan Unas sebagai standar kelulusan siswa dan pemicu peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia. Setiap tahun Depdiknas tanpa ragu menaikkan standar nilai kelulusan Unas. Standar mininal nilai Unas 2008 adalah 5,25, naik 0,25 dari tahun 2007. Menurut Mendiknas Bambang Sudibyo kemungkinan akan dinaikkan menjadi 5,5 pada tahun 2009. Kebijakan ini bukan tanpa kontroversi, pro dan kontra terus mengisi ruang publik. Banyak yang menganggap kebijakan menjadikan Unas sebagai standar kelulusan siswa adalah pengebirian bakat dan kemampuan siswa yang beragam.

Pendidikan Sepanjang Hayat Menuju Generasi Super

Pendidikan sepanjang hayat. Sebuah jargon yang tidak bisa dijadikan hanya sebagai pemanis dalam beretorika. Sistem pendidikan di Indonesia yang telah terbungkus oleh pemikiran konservatif dan usang semakin mengkerdilkan makna pendidikan sepanjang hayat dan tak mampu menciptakan generasi penerus yang memiliki kemampuan ‘super’. Kemampuan super ini bukan berarti sebuah kekuatan fisik layaknya Superman, atau kekuatan magis dan supranatural seperti Hary Potter. Tapi manusia super di sini adalah manusia yang memiliki kecerdasan, kearifan dalam hidup, dan menjadikan ilmu yang dimilikinya sebagai ladang amal. Manusia super adalah manusia yang menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu bermanfaat untuk orang lain. Ia tak pernah lelah menuntut ilmu dan tak perhitungan memberikan ilmunya untuk orang lain. Semua yang didapat oleh seorang manusia super itu melalui proses belajar sepanjang hayat secara wajar tanpa kekuatan magis yang membuat samar antara tauhid dan kemusyrikan.

Selama ini, terutama sebelum dibentukya Direktorat PAUD Depdiknas dan keluarnya Undang Undang No. 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas, sadar atau tidak sistem pendidikan kita lebih bekutat pada pendidikan formal yang berjenjang. Sehingga Pendidikan Anak sejak Usia Dini (PAUD) terlupakan. Taman Kanak kanak (TK/ RA) adalah PAUD formal, namun tidak semua anak dapat merasakan pendidikan di TK/ RA, dan usia mereka pun yang telah mencapai 5-6 tahun. Sementara mereka yang berusia 0- 6 tahun banyak yang tidak mendapatkan pendidikan usia dini secara baik dan benar. Menurut data Depdiknas pada pada akhir tahun 2007 jumlah anak yang terlayani PAUD formal dan non formal sebanyak 28 juta anak atau 48 persen. Kerja keras Direktorat PAUD Depdiknas memang sudah terlihat, karena pada tahun 2004 saja, dari 28,2 juta anak usia 0-6 tahun baru 28,3 % yang terlayani oleh PAUD formal maupun non formal. Namun usaha keras tetap harus dilakukan karena masih lebih dari 50 persen anak belum terlayani PAUD.

Keluarga Sebagai Pilar Utama PAUD Informal

Ujung tombak pendidikan anak usia dini adalah keluarga, terutama peran kedua orang tua. Orang tua terutama ibu menjadi pendidik utama dan pemberi pondasi pendidikan anak. Undang Undang Sisdiknas mengatakan pendidikan anak usia dini sebagai suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. Dari definisi ini tentunya sangat baik jika PAUD langsung dilakukan oleh orang tua sendiri. Karena orang tualah yang lebih tahu siapa dan bagaimana anaknya untuk diarahkan dan dibimbing sesuai kemampuan dan kepribadiannya yang khas. Alangkah lebih baik lagi jika orang tua melakukannya sejak anak dalam kandungan. Seperti memper­dengarkan ayat suci atau musik yang dapat memacu kecerdasan anak sejak dalam kandungan.

Namun yang menjadi permasalaan di tengah masyarakat saat ini tidak semua orang tua mampu mengambil peran penuh dalam mendidik anaknya sejak dini. Ada yang memiliki banyak waktu namun bekal ilmu dan pendidikan yang dimiliki orang tua sangat terbatas sehingga tidak dapat mendidik secara baik dan benar. Di lain pihak banyak mereka yang berpendidikan bagus namun tidak memiliki cukup waktu untuk mendidik anak secara optimal. Taman kanak kanak (TK) sebagai PAUD formal memang dapat mengakomodir, namun seperti penulis sebutkan sebelumnya TK hanya menyerap anak usia 5-6 tahun, dan tidak semua orang tua mampu memasukkan anaknya ke TK.

Dari permasalan ini tentunya sangat sulit bagi kita untuk menciptakan manusia-manusia super yang penulis maksud di atas, karena tidak berkesinambungannya pendidikan anak di usia dini. Padahal hasil penelitian di bidang neurologi membuktikan bahwa perkembangan intelektual telah mencapai 50 persen ketika anak berusia empat tahun, 80 persen setelah berusia delapan tahun, dan genap 100 persen setelah berusia 18 tahun. Hasil kajian ilmiah para ahli juga menunjukkan usia 0-6 tahun merupakan masa perkembangan dan pertumbuhan yang sangat menentukan kualitas anak dan generasi selanjutnya. Oleh karena itu masa emas yang hanya seumur hidup sekali ini jangan sampai terlewatkan. Tentunya menjadi pekerjaan rumah Depdiknas untuk terus mensosialisasikan pentingnya pendidikan anak usia dini.

Pengembangan PAUD Non Formal

Misi Direktorat PAUD Dirjen Pendidikan Luar Sekolah (PLS) Depdiknas dalam meningkatkan perluasan dan pemerataan akses layanan PAUD (melalui penyelenggaan PAUD yang mudah dan murah, tetapi bermutu) harus kita dukung.

Upaya yang telah dilakukan telah banyak mendapat du­kungan dari organisasi massa perempuan dan Posyandu cukup efektif mem­bangun PAUD yang mudah, murah, dan bermutu. Jumlah anak yang terlayani PAUD Non Formal yang terdiri dari Tempat Penitipan Anak (TPA), Kelompok Bermain (KB), Satuan PAUD sejenis atau SPS, dan Taman Pendidikan Al Qur’an (TPQ) pada tahun 2004 sebanyak 2,9 juta. Dua tahun kemudian meningkat menjadi 8,3 juta. Hal ini tentunya sebuah grafik yang menggembirakan. Namun jika tidak ada inovasi baru, perkem­bangan PAUD akan stagnan sebelum mencapai target yang ditentukan Direktorat PAUD sebesar 9,9 juta anak terlayani PAUD non formal di tahun 2009. Menurut penulis jumlah 9,9 juta anak yang ditargetkan masih relatif kecil dibanding jumlah anak 0-6 tahun di Indonesia yang tahun 2006 saja mencapai 28,3 juta anak, apalagi di tahun 2009 nanti jika program KB tidak berjalan baik. Oleh karena itu target minimal tersebut jangan sampai tidak tercapai.

Salah satu cara yang menurut penulis juga perlu digecarkan selain melalui organisasi ibu seperti Aisiyah Muhammadiyah, Muslimat NU, PKK, dan Pos­yandu, yaitu pendekatan terhadap para tokoh masyarakat dan mereka yang memiliki pengaruh cukup kuat di tengah masyarakat. Kepedulian terhadap pendidikan anak usia dini memang lebih banyak didominasi oleh kaum ibu, namun kaum bapak sudah semestinya juga ditingkatkan, terutama mereka yang memiliki pengaruh di tengah masyarakat.

sumber: http://opiniindonesia.com/opini/?p=content&id=494&edx=TWVuZW5nb2sgUEFVRCBNZW51anUgR2VuZXJhc2kgU3VwZXI=

Thursday, 14 May 2009

PAUD dan Calistung

Oleh MAYA A. PUJIATI

Note: PAUD: Pendidikan anak usia dini; Calistung: Baca, Tulis dan Berhitung

PEMBERITAAN “PR” tanggal 9 Maret 2007, halaman 25, memuat pernyataan Direktur Jenderal Pendidikan Luar Sekolah (PLS) Departemen Pendidikan Nasional, Dr. Ace Suryadi, dengan judul “Calistung pada PAUD Salah Besar!”. Menurut Dr. Ace, pembelajaran membaca, menulis, dan berhitung (calistung) pada anak usia dini merupakan salah satu bentuk kesalahan terbesar yang diterapkan sistem pendidikan nasional Indonesia. Pada usia dini, pengajaran calistung justru akan membatasi interaksi siswa dengan lingkungan. Meskipun begitu, ia pun mengatakan, jika keinginan belajar calistung datang dari diri anak secara langsung, hal itu sah-sah saja.

Di pihak lain, beberapa waktu lalu, di Surat Pembaca “PR” edisi Rabu, 20 Desember 2006, seorang bapak mengungkapkan kekecewaannya terhadap salah satu SD, tempat anaknya sekolah. Ketika pendaftaran dilakukan dan anaknya dinyatakan lulus tes, pihak sekolah setuju untuk mengajar anak dari awal, dengan asumsi bahwa semua anak belum bisa membaca dan menulis. Namun, setelah waktu berlalu beberapa bulan ternyata si anak terus mengalami ketertinggalan dalam mengikuti pelajaran. Hal itu disebabkan ia belum juga bisa membaca, sedangkan pelajaran di kelas I sekolah dasar (SD) sekarang ini sudah berupa teks yang cukup banyak dan otomatis membutuhkan kemampuan membaca dan menulis untuk mengikuti dan memahaminya.

Tumpang tindih

Persoalan membaca, menulis, dan berhitung atau calistung memang merupakan fenomena tersendiri. Kini menjadi semakin hangat dibicarakan para orang tua yang memiliki anak usia taman kanak-kanak (TK) dan sekolah dasar karena mereka khawatir anak-anaknya tidak mampu mengikuti pelajaran di sekolahnya nanti jika sedari awal belum dibekali keterampilan calistung.

Kekhawatiran orang tua pun makin mencuat ketika anak-anaknya belum bisa membaca menjelang masuk sekolah dasar. Hal itu membuat para orang tua akhirnya sedikit memaksa anaknya untuk belajar calistung, khususnya membaca. Terlebih lagi, istilah-istilah “tidak lulus”, “tidak naik kelas”, kini semakin menakutkan karena akan berpengaruh pada biaya sekolah yang bertambah kalau akhirnya harus mengulang kelas.

Selama ini taman kanak-kanak didefinisikan sebagai tempat untuk mempersiapkan anak-anak memasuki masa sekolah yang dimulai di jenjang sekolah dasar. Kegiatan yang dilakukan di taman kanak-kanak pun hanyalah bermain dengan mempergunakan alat-alat bermain edukatif. Pelajaran membaca, menulis, dan berhitung tidak diperkenankan di tingkat taman kanak-kanak, kecuali hanya pengenalan huruf-huruf dan angka-angka, itu pun dilakukan setelah anak-anak memasuki TK B.

Akan tetapi, pada perkembangan terakhir hal itu menimbulkan sedikit masalah, karena ternyata pelajaran di kelas satu sekolah dasar sulit diikuti jika asumsinya anak-anak lulusan TK belum mendapat pelajaran calistung.

Karena tuntutan itulah, akhirnya banyak TK yang secara mandiri mengupayakan pelajaran membaca bagi murid-muridnya. Berbagai metode mengajar dipraktikkan, dengan harapan bisa membantu anak-anak untuk menguasai keterampilan membaca dan menulis sebelum masuk sekolah dasar. Beberapa anak mungkin berhasil menguasai keterampilan tersebut, namun banyak pula di antaranya yang masih mengalami kesulitan.

Paradigma belajar

Perbedaan definisi belajar menjadi pangkal persoalan dalam mempelajari apa pun, termasuk belajar calistung. Selama bertahun-tahun belajar telah menjadi istilah yang mewakili kegiatan yang begitu serius, menguras pikiran dan konsentrasi. Oleh karena itu, permainan dan nyanyian tidaklah dikatakan belajar walaupun mungkin isi permainan dan nyanyian adalah ilmu pengetahuan.

Teori psikologi perkembangan Jean Piaget selama ini telah menjadi rujukan utama kurikulum TK dan bahkan pendidikan secara umum.

Pelajaran membaca, menulis, dan berhitung secara tidak langsung dilarang untuk diperkenalkan pada anak-anak di bawah usia 7 tahun. Piaget beranggapan bahwa pada usia di bawah 7 tahun anak belum mencapai fase operasional konkret. Fase itu adalah fase, di mana anak-anak dianggap sudah bisa berpikir terstruktur. Sementara itu, kegiatan belajar calistung sendiri didefinisikan sebagai kegiatan yang memerlukan cara berpikir terstruktur, sehingga tidak cocok diajarkan kepada anak-anak TK yang masih berusia balita.

Piaget khawatir otak anak-anak akan terbebani jika pelajaran calistung diajarkan pada anak-anak di bawah 7 tahun. Alih-alih ingin mencerdaskan anak, akhirnya anak-anak malah memiliki persepsi yang buruk tentang belajar dan menjadi benci dengan kegiatan belajar setelah mereka beranjak besar.

Pesan yang ditangkap dari teori Piaget sering kali berhenti pada “larangan belajar calistung”, namun tidak banyak orang memahami alasannya. Padahal perkembangan dalam pembelajaran di era informasi sekarang ini sebenarnya sudah semakin jauh berubah. Topik pelajaran bukanlah persoalan yang akan menghambat seseorang, pada usia berapapun, untuk mempelajarinya. Syaratnya hanyalah mengubah cara belajar, disesuaikan dengan kecenderungan gaya belajar dan usianya masing-masing sehingga terasa menyenangkan dan membangkitkan minat untuk terus belajar.

Belajar membaca, menulis, berhitung, dan bahkan sains kini tidaklah perlu dianggap tabu bagi anak usia dini. Persoalan terpenting adalah merekonstruksi cara untuk mempelajarinya sehingga anak-anak menganggap kegiatan belajar mereka tak ubahnya seperti bermain dan bahkan memang berbentuk sebuah permainan.

Memang benar jika calistung diajarkan seperti halnya orang dewasa belajar, besar kemungkinan akan berakibat fatal. Anak-anak bisa kehilangan gairah belajarnya karena menganggap pelajaran itu sangat sulit dan tidak menyenangkan.

Merujuk pada temuan Howard Gardner tentang kecerdasan majemuk, sesungguhnya pelajaran calistung hanyalah sebagian kecil pelajaran yang perlu diperoleh setiap anak. Cara kita memandang calistung semestinya juga sama dengan cara kita memandang pelajaran lain, seperti motorik dan kecerdasan bergaul ataupun musikal.

Penganut behavior-isme memang mencela pembelajaran baca-tulis dan matematika untuk anak usia dini. Mereka menganggap hal itu sebuah pembatasan terhadap keterampilan.

Namun, sesungguhnya pelajaran calistung bisa membaur dengan kegiatan lainnya yang dirancang dalam kurikulum TK tanpa harus membuat anak-anak terbebani. Adakalanya tidak diperlukan waktu ataupun momentum khusus untuk mengajarkan calistung. Anak-anak bisa belajar membaca lewat poster-poster bergambar yang ditempel di dinding kelas. Biasanya dinding kelas hanya berisi gambar benda-benda. Bisa saja mulai saat ini gambar-gambar itu ditambahi poster-poster kata, dengan ukuran huruf yang cukup besar dan warna yang mencolok.

Setiap satu atau dua minggu, gambar-gambar diganti dengan yang baru, dan tentu akan muncul lagi kata-kata baru bersamaan dengan penggantian itu. Dalam waktu satu atau dua tahun, bisa kita hitung, lumayan banyak juga kata yang bisa dibaca anak-anak. Jangan heran kalau akhirnya anak-anak bisa membaca tanpa guru yang merasa stres untuk mengajari mereka menghafal huruf atau mengeja.

Demikian halnya dengan pelajaran berhitung. Mengenalkan kuantitas benda adalah dasar-dasar matematika yang lebih penting daripada menghafal angka-angka, dan hal itu sangat mudah diajarkan pada anak usia dini. Poster berbagai benda berikut lambang bilangan yang mewakilinya bisa kita tempel di dinding kelas. Sambil bernyanyi, guru bisa mengajak anak-anak berkeliling kelas untuk membaca dan melihat bilangan.

Maria Montessori dan Glenn Doman menjadi pelopor dalam pengembangan metode belajar membaca dan matematika bagi anak-anak usia dini. Maria Montessori, seorang dokter wanita pertama dari Italia, telah mempraktikkan pembelajaran multiindrawi lewat kegiatan sehari-hari. Pengalaman tersebut diperolehnya setelah menangani anak-anak bermental terbelakang. Lewat kegiatan-kegiatan sederhana yang diulang setiap hari, sebagian besar anak-anak itu mengalami kemajuan yang pesat. Mereka bahkan bisa membaca dan menulis pada usia yang relatif muda, sekitar 4 dan 5 tahun tanpa harus merasa terbebani.

Montessori menciptakan alat-alat belajar dari benda-benda yang akrab di sekeliling kita. Ia membuat alat belajar seperti perlengkapan bermain. Untuk mengajar anak-anak membaca, ia membuat berbagai macam kartu huruf dari papan kayu atau kertas tebal. Setiap huruf dicetak dari kertas ampelas yang cukup kasar. Selain anak-anak membunyikan huruf-huruf tersebut, mereka juga merabanya untuk membentuk kepekaan terhadap tekstur huruf. Kartu-kartu berisi kata bergambar yang dikelompokkan ke dalam jenis-jenis kata juga menjadi alat belajar yang menarik bagi anak-anak.

Glenn Doman adalah contoh lain pendobrak teori perkembangan Piaget. Doman adalah seorang dokter bedah otak. Ia berhasil membantu menyembuhkan orang-orang yang mengalami cedera otak lewat flash card. Ia membuat kartu-kartu kata yang ditulis dengan tinta berwarna merah pada karton tebal, dengan ukuran huruf yang cukup besar. Kartu-kartu itu ditampilkan di hadapan si pasien dalam waktu cepat, hanya satu detik per kata. Adanya perkembangan pada otak pasiennya membuat ia ingin mencobanya kepada anak-anak bahkan bayi.

Metode flash cards bagi sebagian besar orang adalah mustahil. Karena, bisa saja anak-anak menghafal kata-kata yang sudah diperkenalkan namun akan kebingungan ketika diberikan kata-kata baru yang belum pernah dibacanya.

Kritik terhadap flash cards memang sering dilontarkan orang, termasuk sebagian ahli psikologi. Hal itu disebabkan flash cards dianggap sebagai cara yang kurang rasional, merusak pembelajaran nalar dan logika. Flash cards berbasis hafalan, sedangkan kemampuan membaca menurut para psikolog dan orang pada umumnya harus diproses melalui tahapan-tahapan fonemik dan fonetik. Anak-anak harus terlebih dahulu mengenal huruf dan mampu membedakan bunyi, sampai akhirnya bisa menggabungkan huruf-huruf tersebut menjadi sebuah kata.

Itulah letak perbedaan Doman dan para pengkritiknya. Doman hanya merekomendasikan pembelajaran membaca dan matematika sekitar 45 detik per hari. Bisa kita bayangkan, betapa sebentarnya, dan kemungkinan anak-anak merasa terbebani karena metode itu sangatlah kecil. Tak heran jika anak-anak usia 2 atau 3 tahun pun sudah mahir membaca dan juga menjadi sangat suka serta tentu saja tidak menolak untuk belajar membaca dengan pendekatan tersebut.

Mengembangkan kemampuan para pendidik PAUD untuk mengajar calistung secara menyenangkan, mungkin akan lebih baik daripada melarang pelajaran calistung pada anak usia dini secara keseluruhan, tanpa memberikan solusi untuk mengatasi persoalan baca-tulis di sekolah dasar. Bukan pelajarannya yang harus dipersoalkan, tetapi cara menyajikannya.***

Penulis, ibu dua anak, pemerhati pendidikan.

Sumber : Milis Horizontal
http://prabu.telkom.us/2007/06/11/paud-dan-calistung/

Pendidikan Usia Dini dimulai sejak masa kandungan

Masa kecil merupakan fase terpenting perihal perkembangan Intelektualitas maupun perkembangan emosional anak. Anak mulai belajar tidak hanya ketika ia baru lahir, tetapi sejak masa kehamilan sang ibu. Sejak dalam kandungan, anak mengalami perkebangan fisik maupun mental lewat perantara ibunya. Secara fisik, sang anak mendapatkan nutrisi lewat makanan yang dikonsumsi ibunya. Dengan demikian, jika sang Ibu menginginkan anaknya lahir dalam keadaan sehat dan kuat secara fisik, maka nutrisi yang terkandung dalam makanan merupakan faktor penting untuk mewujudkan keinginan itu. Dengan nutrisi yang cukup, anak akan tumbuh sehat, cukup gizi dan terhindar dari peluang keterbelakangan mental akibat gizi buruk. Sangat jelas dan mutlak bahwa makanan mempengaruhi perkembangan kecerdasan anak. Penelitian di suatu rumah sakit di Amerika Serikat menunjukkan, bahwa anak-anak yang lahir dari ibu yang punya kebiasaan meminum alkohol memiliki kecerdasan yang lebih rendah dan tertinggal dibanding anak-anak yang ibunya bukan pecandu Alkohol. Hal ini jelas menunjukkan pentingnya untuk selektif mengkonsumsi makanan demi kebutuhan nutrisi anak. Selain menunjang kesehatan fisik, makanan juga memberikan pengaruh secara psikologis / mental. Selama masa kehamilan merupakan masa penting pertumbuhan mental anak. Jika sang Ibu menginginkan anaknya lahir dengan keadaan sehat mentalnya, makanan yang dikonsumsi tidak hanya harus baik secara gizi, tetapi harus baik pula cara memperolehnya. Makanan tersebut haruslah makanan yang halal baik halal zatnya maupun cara memperolehnya. Makanan yang tidak halal akan berpengaruh buruk pada perkembangan jiwa anak. Makanan yang tidak halal ujar A’Agym, akan mencederai fikiran anak. Makanan yang tidak halal/haram akan menghasilkan darah haram pula. Darah yang haram akan menyebar keseluruh tubuh, ke tangan, kaki, sehingga tangan dan kakinya akan terbiasa melakukan hal-hal haram. Selain itu darah haram yang mengalir ke otak anak akan membuat anak memikirkan hal-hal haram, menjadi nakal dan sulit menerima nilai-nilai religius/keagamaan.

Perkembangan mental diwariskan lewat tingkah laku ibu

Selain kebutuhan nutrisi yang halal lagi baik, masa kehamilan juga merupakan masa perkembangan mental/emosional anak. Tidak hanya fisik yang berkembang pada tahap ini, mental anak juga berkembang lewat tingkah laku yang dilakukan oleh ibunya selama masa mengandung. Oleh karena itu, pada masa-masa kehamilan, seorang ibu dalam keadaan apapun harus menjaga kestabilan emosionalnya. Tidak hanya nutrisi yang disalurkan lewat ibu. Tetapi Sifat, karakter bahkan tingkah laku emosional juga tertransfer kepada anak lewat perilaku ibu selama masa kehamilan. Oleh karena itu, tidaklah salah jika seorang ibu menginginkan anaknya menjadi orang yang disiplin dan beretos kerja baik dikemudian hari, maka sangiIbu harus membiasakan kedisiplinan dalam segala hal selama masa kehamilannya. Sang ibu harus menjaga efektititas penggunaan waktu kesehariannya, membiasakan menepati janji baik kepada diri sendiri maupun orang lain, menjalankan tugas tepat waktu dan sesuai prosedur, ataupun selalu mentaati peraturan di manapun berada, apakah peraturan lalulintas, peraturan dalam dimensi lingkungan kerja ataupun peraturan-peraturan lainnya. Jika sang ibu menginginkan anaknya menjadi seorang ahli ibadah atau penyabar, maka sang ibu juga harus membiasakan untuk giat beribadah dan mengontrol emosional selama masa kehamilan. Membiasakan melaksanakan semua kewajiban ibadah tepat waktu, melaksanakan segala yang diperintahNya dan menjauhi semua larangan agama. Jika pada masa sekarang ilmuwan menemukan bahwa dengan memperdengarkan musik klasik pada anak selama masa kehamilan akan membantu dan meningkatkan kecerdasan anak, maka sejak dulu sejarah telah mencatat kemampuan luarbiasa seorang Imam Syafi’i yang hafal Al-qur’an sejak usia sembilan tahun karena dulu selama dalam masa kandungan, ibunya selalu membaca ayat-ayat Al-qur’an setiap hari. Jelaslah terbukti bahwa kondisi emosional seorang ibu selama masa kehamilan sangat mempengaruhi perkembangan anak.

Masa Belajar anak setelah lahir

JJika di atas dipaparkan bahwa anak mulai belajar pada masa kandungan lewat tingkah laku dan kondisi emosional ibunya, maka setelah lahir anak mulai belajar dengan mengamati lingkungan sekitarnya. Lingkungan adalah guru bagi seorang anak. Lingkungan yang dapat berupa kedua orang tua, kakak, saudara, kakek-nenek, memilliki peran besar perihal perkembangan pertumbuhan anak dari masa kecilnya baik secara fisik maupun intelektual-emosional. Oleh karena itu, menurut pakar psikologi anak Dr. Seto Mulyadi yang akrab dipanggil Kak Seto mengatakan, usia balita merupakan masa penting bagi perkembangan potensi seseorang, termasuk rasa percaya dirinya. Sejalan dengan itu, ahli perkembangan anak dari Universitas Georgia, AS, Dr. Keith Osborn menyatakan, perkembangan kecerdasan yang sangat pesat terjadi pada saat anak berusia nol sampai lima tahun. Jadi pendidikan usia dini mutlak diperlukan. Perkembangan Kecerdasan anak memerlukan arahan yang baik dan benar. Dengan arahan inilah, perkembangan anak dapat terkontrol dan berada pada jalur yang benar pula.

Ibu dan keluarga adalah sekolah Pertama

Sejak lahir hingga masa balita, anak memiliki teman pertama yaitu ibu yang sekaligus menjadi orang tua pengasuhnya. Masa perkenalannya dengan ibu dimulai sejak masa kandungan, dan setelah kelahirannya, maka teman pertama yang ia dapat dan menjadi sandaran kasih sayangnya adalah ibu. Ibu merupakan orang pertama yang punya peran besar dalam membentuk karakter anak. Anak pada awal pertumbuhan usianya menggantungkan segala hal kepada ibunya. Anak mendapatkan makanan lewat ibunya, mendapatkan dekapan kasih sayang dan perlindungan dari ibu. Jadi, ibu punya peran sentral sebagai sekolah pertama bagi anak-anaknya.Pada masa ini, sebelum menuju masa PAUD formal seperti TK/Play group, ibu adalah guru sekaligus teman bermain di rumah. Seorang ibu harus memperhatikan dengan jelas dan mengontrol dengan teliti perihal perkembangan fisik dan mental anaknya. Seorang ibu diharapkan paham apa yang diperlukan anaknya. Seorang ibu juga harus bisa mengenalkan mengenai perbuatan yang dibolehkan dan dilarang kepada anaknya sedini mungkin, dan tentunya dengan cara yang baik dan penuh kasih sayang.Seorang ibu harus bisa mengenalkan nilai-nilai moral dan mental spiritual sejak kecil. Sang ibu harus melatih anaknya agar menjadi anak yang tegar tidak cengeng dan bertanggung jawab. Nilai-nilai tersebut bisa diberikan lewat praktek bermain dalam kehidupan sehari-hari ataupun diberikan ketika terjadi suatu kesalahan pada anaknya. Misalnya seorang balita sedang bermain lari-larian, lalu terjatuh dan menangis. Kebanyakan ibu di lapangan menganjurkan anaknya agar memukul lantai sambil mengatakan ”lantai nakal…pukul…pukul”. Secara spontan mungkin tindakan itu bisa membuat anaknya terhibur dan berhenti menangis. Tetapi akibat yang timbul beberapa tahun sesudahnya justru berbahaya. Tindakan tersebut menjadi salah satu penyebab anak menjadi tidak bertanggung jawab dan suka melimpahkan kesalahan kepada orang lain. Seperti yang terjadi pada sebagian anak-anak sekarang. Jika mereka gagal ujian atau tidak naik kelas, maka gurunya yang disalahkan. Menurut mereka gurunya lah yang salah memberikan metode belajar den beragam alasan diplomatis lainnya. Jika beberapa murid di kelas dihukum karena melakukan pelanggaran bersama, maka sebagian dari mereka saling tuduh sebagian yang lain, tak ada satupun yang berani mempertanggung jawabkan kesalahan yang mereka buat sendiri.Sang ibu semestinya tidak melakukan hal demikian. Jika anak melakukan kesalahan, maka yang mereka perlukan bukanlah hiburan untuk menghentikan tangis atau hukuman fisik yang membuat jera. Tetapi mereka memerlukan alasan logis mengapa mereka dilarang melakukan kesalahan itu. Dengan pengertian dan komunikasi yang baik dan didukung keteladanan tentunya, anak akan mengerti secara rasional alasan mendasar yang menjadi sebab dilarangnya perbuatan tersebut. Jika anak terjatuh karena terpeleset, maka sang ibu harus memberikan penjelasan dengan baik agar jangan lari-larian karena lantai licin. Kalau terjatuh pasti sakit…dan sebagainya.Selain itu pula keteladanan kedua orang tua khususnya ibu sangatlah diperlukan. Hal inimengingat anak menggantungkan semua kepentingannya pada ibu, sehingga apa yang ada pada ibunya tentu akan diikuti oleh anaknya. Seorang ibu harus memperkecil semaksimal mungkin untuk melakukan kesalahan. Jika sang ibu melakukan kesalahan , maka yang terpenting adalah mengakuinya dan meminta maaf kepada anaknya jika kesalahan itun tertuju pada anaknya. Dengan membiasakan mengakui kesalahan dan meminta maaf, tentu akan membuat anak melakukan hal yang sama. Sang anak akan tumbuh menjadi orang yang komunikatif, bertanggung jawab, berani mengakui kesalahan dan tidak lari dari masalah yang dialami. Mengakui kesalahan dihadapan anaknya bukan berarti menghina kehormatan orang tua, tetapi sebagai penjelasan logis kepada anak agar jangan melakukan hal yang sama dan memberikan pengertian bahwa kita harus bijak pada kesalahan yang diperbuat seseorang, karena semua orang pasti punya kesalahan.Lewat paparan di atas sudah jelas tampak bahwa pendidikan usia dini mutlak diperlukan. Peningkatan akses Pendidikan Usia dini tentu sangat mempengaruhi perkembangan SDM rakyat indonesia yang lebih berkualitas secara intelektual maupun emosional. Masa usia nol sampai lima tahun adalah masa genting perkembangan kecerdasan anak. Oleh karenanya sangatlah rawan dan rugi jika pada usia-usia itu, sang perkembangan kecerdasan anak tidak diarahkan dengan cara yang benar. Minimal lewat PAUD, sang anak bisa mengerti bagaimana cara bermain yang benar. Jika orang-orang dewasa menganggap bermain merupakan tindakan menyia-nyiakan waktu dan sia-sia, namun bagi anak, jusutru hanya dengan cara itulah mereka belajar. Hanya dengan bermain lewat cara yang benarlah semua nilai-nilai positif pendidikan bisa ditransfer kepada anak secara bertahap tentunya.

Peningkatan Akses PAUD Nonformal Gratis

Akses Pendidikan anak Usia dini perlu diperluas. Selama ini kita banyak menemukan sekolah gratis yang di jalankan oleh para relawan-relawan yang mulia. Namun permasalahannya, pendidikan gratis tersebut sebagian besar dimulai pada level sekolah dasar. Sedangkan akses PAUD gratis untuk TK ataupun Playgroup gratis sulit dicari. Padahal seperti yang dikatakan sebelumnya, masa-masa balita adalah masa genting perkembangan kecerdasan anak. Hampir 50 persen potensi kecerdasan anak, katanya, sudah terbentuk pada usia empat tahun, kemudian mencapai 80 persen pada saat anak berusia delapan tahun. Kreativitas seseorang mulai meningkat pada usia tiga tahun dan mencapai puncaknya pada usia 4,5 tahun, dan akan segera menurun apabila tidak diupayakan agar kemampuan tersebut tetap terus berkembang. Sementara di lapangan kita dapati banyak sekali anak-anak jalanan yang dari kalangan balita hingga remaja yang menjadi pengamen mengadu nasib di jalanan kota. Masa kecil mereka terganggu dengan beban hidup seperti itu. Mereka justru memerlukan perhatian yang lebih ekstra dibandingkan anak-anak seusianya yang hidup normal dalam keluarga yang utuh. Selain tiu juga banyak Institusi PAUD yang berjalan dengan biaya yang cukup mahal. Sehingga akses pendidikan PAUD seolah-olah hnya tersedia bagi mereka yang mampu saja. Hal ini tak bisa dibiarkan. PAUD gratis adalah salah satu solusinya. Pemerintah harus melakukan sesuatu untuk memperbanyak akses PAUD, terutama PAUD nonformal yang murah biayanya ataupun yang tanpa biaya sama sekali. Akses ini harus diperbesar agar anak-anak bisa terkontrol perkembangan kecerdasannya dan kreatifitasnya berkembang baik. Selain itu, PAUD dipandang sangat penting karena ia adalah momen-momen penting untuk mengenalkan pendidikan formal kepada anak untuk pertama kalinya. PAUD adalah akses pertama pendidikan, sehungga dengan dilaksanakannya PAUD anak akan sadar bahwa pendidikan haruslah berlanjut dari jenjang satu ke jenjang lainnya. Kebanyakan siswa yang sadar akan pendidikan dasar wajib sembilan tahun adalah mereka-mereka yang pernah mengikuti PAUD sebelumnya. Jadi jelas sekali PAUD adalah pintu pembuka kesadaran pendidikan dasar wajib sembilan tahun. Anak-anak yang pernah mengikuti PAUD sudah paham betapa menyenangkannya pendidikan, sehingga ketika orang tuanya menyarankan untuk melanjutkan ke pendidikan dasar, sang anak tidak takut untuk menerimanya, karena mereka sudah punya gambaran yang jelas tentang pendidikan itu.Akses PAUD harus ditambah. Tak bisa di tawar lagi. Ia adalah sebuah kemestian. Tanpanya kesadaran pendidikan dasar sembilan tahun akan sulit muncul. Sebenarnya kendala utama yang menjadi penghambat kesadaran pendidikan dasar sembilan tahun bukanlah permasalahan biaya, tetapi kebanyakan merupakan masalah kepercayaan orang tua akan pendidikan Indonesia. Mereka bukan tidak punya uang untuk menyekolahkan anak-anaknya. Bahkan terkadang uang rokok perhari untuk ayahnya adalah pengeluaran terbesar setiap bulan. Jadi biaya bukanlah permasalahan utama. Yang bermasalah adalah kepercayaan mereka. Mereka terkadang tidak yakin bahwa dengan pendidikan itu bisa memperbaiki kualitas hidup seseorang. Mereka meragukan manfaat praktis dari pendidikan itu. Hal inilah yang membuat sebagian orang tua memutuskan anaknya berhenti sekolah. ”Lebih baik kamu bantu ibu jualan nak” katanya. Disinilah pentingnya PAUD. Pada masa ini PAUD bisa dijadikan sebagai wadah dan momen pertama untuk membangun kepercayaan itu. PAUD bisa dijadikan sebagai momen untuk meyakinkan orang tua bahwa pendidikan ini punya nilai praktis dan sangat bermanfaat untuk memperbaiki kualitas kehidupan seseorang meskipun butuh proses ke arah itu. Hanya dengan pendidikan kita terlindungi dari kebodohan dan keterbelakangan.Jadi tidak bisa ditunda lagi. Pemerintah memang punya kewajiban untuk memperbanyak akses tersebut. Tapi hal initidak akan terwujud tanpa bantuan semua pihak. Oleh karenanya mari kita galakkan pendidikan usia dini. Kita perbanyak akses sosial pendidika kepada mereka uayng tidak mampu ataupun terlantar. Dengan pendidikan usia dini kita songsong pendidikan dasar sembilan tahun. Agar lewat pendidikan dasar tersebut kesadaran akan pendidikan semakin bertambah sehingga keinginan untuk meningkatkan kualitas keilmuan pada jenjang yang lebih tinggi kian bertambah pula. Semua butuh kerjasama dan peran serta kita, demi jaya Indonesia .

Semoga!

sumber: http://www.kolomkita.com/2007/06/28/urgensi-paud/

Tuesday, 12 May 2009

Menyoal PAUD ke Depan

Depdiknas menargetkan, pada tahun 2009, jumlah anak yang mendapatkan layanan program studi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sebanyak 15,3 juta anak. Agenda itu, kata Dirjen PLS Depdiknas Ace Suryadi, penting dilaksanakan, sebab ia amanat UU No 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Program PAUD juga hal penting dilaksanakan sedini mungkin dan menjadi kebutuhan masyarakat. Dalam dimensi kehidupan bernegara, anak adalah penentu kehidupan di masa akan datang. Usia dini merupakan masa emas, namun sekaligus masa sangat kritis dalam perkembangan anak. Berbagai hasil penelitian mengungkapkan, perkembangan kecerdasan anak 50% dicapai pada usia 4 tahun, 80% pada usia 8 tahun, dan 100% pada usia 18 tahun.

Ditilik dari hak asasi, PAUD juga sangat ditekankan. Setelah diperjuangkan sejak 1923, saat Eglantyne Jebb membuat rancangan Deklarasi Hak Anak, akhirnya pada 20 November 1989 Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa mengesahkan Konvensi Hak Anak (KHA). Salah satu hak anak itu adalah hak atas pendidikan (pasal 28 dan 29). Termasuk di dalamnya pendidikan bagi anak usia dini (PAUD), yaitu pendidikan bagi anak yang berada dalam rentang usia 0-6 tahun.

Atensi terhadap PAUD ini kian menguat dalam Konferensi Pendidikan Sedunia (2000). Pada pertemuan yang dihadiri 185 negara tersebut, dilansir deklarasi Dakar-Senegal bertajuk Education For All. Salah satu item deklarasi itu adalah memperluas dan memperbaiki keseluruhan perawatan dan PAUD, terutama bagi anak-anak yang sangat rawan dan kurang beruntung. Deklarasi ini sangat cocok dengan kondisi di Indonesia, tidak saja karena tingginya jumlah anak-anak rawan dan kurang beruntung, tapi juga karena hingga saat ini atensi atas PAUD masih sangat minim.

Sebetulnya sasaran PAUD bukan anak-anak saja, melainkan juga menyangkut orangtua anak, keluarga anak, pendidik dan pengelola PAUD. Ini juga menjadi kekhasan dalam PAUD di mana anak, orangtua, keluarga, pendidik dan pengelola merupakan kesatuan terpadu untuk menyukseskan pendidikan itu. Inilah sebabnya pelayanan terpadu yang meliputi berbagai sasaran tadi amat dibutuhkan.

Persoalannya, apakah pendidikan usia dini di Indonesia telah berjalan baik dan menjangkau semua sasaran? Jawabnya: belum! Prof Ki Supriyoko (2005) menulis, baik secara kuantitatif maupun kualitatif, PAUD di negara kita jauh dari memadai, apalagi membanggakan. Bahkan ada kesan, PAUD kita selama ini terabaikan.
Data Tim ‘Education For All’ Depdiknas juga menunjukkan, dari sekitar 26,1 juta anak Indonesia usia 0-6 tahun (usia dini), baru 28% memperoleh layanan pendidikan dini. Kondisi ini membuat Indonesia berada pada peringkat di bawah negara-negara lain yang memiliki pendapatan per kapita rendah dalam persoalan partisipasi pendidikan dan pelayanan usia dini.

Anak-anak usia dini tersebut ditampung di 582 Taman Penitipan Anak (0,05%), 4.035 Kelompok Bermain (0,13%), 316 Posyandu Terintegrasi PAUD, 41.430 Taman Kanak-kanak/TK (6,5%), 8.097 Raudatul Athfal/RA (1,4%), Bina Keluarga Balita (9,6%), dan 663 Pusat PAUD. Sayangnya, hampir 99% institusi PAUD merupakan institusi swasta. Itulah sebabnya, nuansa ‘bisnis’ juga tampak (NU Adiningsih, 2005). Sudah bukan rahasia, kian tahun, biaya memasukkan anak ke TK/RA/taman bermain, makin mahal.

Sri mengungkapkan, di Indonesia terdapat 26,1 juta anak usia nol hingga enam tahun. Sebanyak 52% dari angka tersebut atau 13,5 juta berusia nol hingga tiga tahun, dan sisanya 48% atau 12,6 juta berusia tiga hingga enam tahun. Namun jumlah fasilitas belajar dan pengasuhan anak usia dini masih sangat terbatas. Ini juga didukung masih terbatasnya ketersediaan fasilitas yang konvergen dalam hal pengasuhan dan pendidikan maupun gizi dan kesehatan untuk anak usia dua hingga enam tahun. ‘Tahun 2004, hanya 316 Posyandu yang memberikan layanan pengembangan anak usia dini dari 663 layanan untuk anak usia dini di pedesaan di Indonesia,’ jelasnya.

Selain itu, informasi penerapan pengembangan anak usia dini secara holistik juga sangat minim. Demikian pula dengan kurangnya kesempatan orangtua di pedesaan untuk memperoleh pemahaman mengenai penerapan pengembangan anak usia dini secara benar. Di lain pihak, ujar Sri, minimnya koordinasi antarinstansi dan institusi terkait dalam perencanaan dan penerapan intervensi pengembangan dan pen-didikan anak usia dini berakibat pada pemberian layanan ini menjadi terkotak-kotak.

Untuk mengatasi kondisi itu, perlu dikembangkan program pengembangan anak usia dini yang komprehensif untuk keluarga dan masyarakat tak mampu di daerah pedesaan. Tujuannya untuk menjamin agar semua anak mempunyai akses layanan perawatan dan pengembangan anak usia dini yang berkualitas, serta meningkatkan kesadaran dan keterampilan orangtua, kader, dan pelaksana program PAUD.

Sementara untuk PAUD secara umum, dengan adanya realitas rendahnya jumlah anak usia dini yang telah terlayani pendidikannya dan sedikitnya lembaga penyelenggara PAUD bermutu, dibutuhkan upaya-upaya nyata untuk melayani anak-anak usia dini. Konkritnya, PAUD harus memperoleh tempat dalam sistem pendidikan nasional. Tentu saja pelayanan pendidikannya tidak sembarang pelayanan, tapi dibutuhkan suatu model pelayanan efektif bagi perkembangan anak itu sendiri.

Akhirnya, penting untuk direnungkan: kalau secara umum sering disebutkan bahwa kualitas pendidikan kita rendah dibanding kualitas pendidikan di negara-negara lain, maka akar masalah sesungguhnya ada pada terabaikannya PAUD selama ini. Ini tentu penting segera diatasi!

sumber: http://www.hupelita.com/baca.php?id=58389

Pelayanan Pendidikan Anak Usia Dini Masih Rendah

KESRA–21 JULI: Pelayanan terhadap Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) masih rendah. Selain karena belum semua orang tua paham pentingnya pendidikan di usia dini, hal ini disebabkan masih terbatasnya lembaga penyelenggara PAUD.

Dirjen Pendidikan Non Formal dan Informal (PNFI) Depdiknas Ace Suryadi mengatakan meski selama ini pemerintah berupaya memberikan pelayanan PAUD, kenyataan menunjukkan hingga 2006 anak usia dini yang terlayani baik itu melalui PAUD formal maupun nonformal baru sekitar 46,7% dari 28 juta anak usia dini yang ada. Khusus yang terlayani dalam PAUD nonformal baru sekitar 29,3%.

Untuk meningkatkan pelayanan PAUD pada tahun 2009 Depdiknas menetapkan pelayanan PAUD bisa mencapai 53,9% dan pada 2012 bisa mencapai 75% pelayanan pendidikan terhadap anak usia dini.

“Berbagai upaya kita lakukan untuk mensukseskan pendidikan anak di bawah usia 4 tahun ini. Antara lain, sosialisasi melalui berbagai kegiatan baik langsung maupun melalui media massa,” kata Aceh Suryadi saat mengumumkan hasil pemenang lomba jurnalistik PAUD tingkat nasional di Jakarta, Jumat (20/7).

Ia mengatakan pentingnya pendidikan anak usia dini ini, karena umur anak tersebut merupakan usia emas. Kalau usia 0-2 tahun itu merupakan usia emas nutrisi atau gizi. Sedangkan, pada umur 0-4 tahun merupakan usia emas untuk memaksimalkan kecerdasan anak.

Ia mengatakan dalam usia emas ini yang penting mengembangkan kreativitas anak untuk berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Pada dasarnya usia ini merupakan umur anak-anak untuk bermain.

“Jadi, anak-anak usia emas ini jangan diberikan pelajaran membaca dan menulis. Ini namanya melanggar hak anak-anak untuk bermain. Kalau bermain sambil belajar itu yang dianjurkan,” ujarnya seraya menambahkan dengan berinteraksi melalui lingkungan itu, kecerdasan anak-anak usia emas ini akan berkembang.

Dalam lomba jurnalistik PAUD yang ke-4 ini, Guntur Adi Sukma dari Harian Analisa merebut juara pertama dan berhak atas hadiah Rp12,5 juta. Peringkat kedua ditempati Daroe Iswatiningsih, penulis lepas meraih hadiah Rp10 juta. Sedangkan pemenang ketiga ditempati wartawan LKBN Antara Zita Meirina dan meraih hadiah Rp7,5 juta. (miol/broto)

sumber: http://www.menkokesra.go.id/content/view/4521/

Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)

Indonesia pada tahun 1990, telah menandatangani sebuah Deklarasi Dunia tentang Pendidikan Untuk Semua (Education for All Declaration) pada konferensi UNESCO, di Thailand. Deklarasi ini menjadi komitmen bersama, untuk menyediakan pendidikan dasar yang bermutu dan non diskriminatif, di masing-masing negara. Realisasi deklarasi tersebut juga sekaligus merupakan upaya untuk memenuhi Hak Pendidikan (sesuai pasal 26 Deklarasi Umum Hak Asasi Manusia/DUHAM, bahwa “Setiap orang berhak memperoleh pendidikan. Pendidikan harus Cuma-Cuma, setidak-tidaknya untuk tingkat sekolah rendah dan pendidikan dasar. Pendidikan dasar diperlukan untuk menjaga perdamaian.”)

Pada tahun 2003, pemerintah mengeluarkan sebuah Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang menjamin hak atas “pendidikan dasar” bagi warga negara berusia tujuh hingga lima belas tahun. Namun, pendidikan untuk anak yang berusia dibawah tujuh tahun tidak dimasukkan sebagai pendidikan dasar.

Padahal, istilah pendidikan dasar seharusnya mulai berlaku mulai anak berusia 0-18 tahun. Hal ini sesuai dengan usia golden age atau keemasan anak, yaitu usia 0-9 tahun. Sedangkan menurut Konvensi Anak, yang disebut anak yaitu yang berusia 0-18 tahun. Jadi seharusnya UU mengenai Sistem Pendidikan Nasional tersebut mengakomodir usia anak dari umur 0-18 tahun tersebut.

Salah satu pemenuhan hak pendidikan sejak dini pada usia 3-5 tahun yang kemudian dilakukan masyarakat dan pemerintah yaitu program Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Di dalam pelaksanaannya, setiap kelurahan yang ada di Indonesia didorong untuk memiliki minimal satu PAUD. PAUD merupakan alternatif pemenuhan hak pendidikan selain Taman Kanak-Kanak (TK) atau Taman Pendidikan Alqur’an (TPA).

Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 13 Tahun 2005, PAUD termasuk dalam jenis pendidikan Non Formal. Pendidikan Non Formal selain PAUD yaitu Tempat Penitipan Anak (TPA), Play Group dan PAUD Sejenis. PAUD sejenis artinya PAUD yang diselenggarakan bersama dengan program Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu untuk kesehatan ibu dan anak). Sedangkan pada Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), PAUD dimasukkan kedalam program Pendidikan Luar Sekolah (PLS).

Pada penyelenggaraan PAUD, jenis pendidikan ini tidak menggunakan kurikulum baku dari Depdiknas, melainkan menggunakan rencana pengajaran yang disebut Menu Besar. Menu Besar ini mencakup pendidikan moral dan nilai keagamaan, fisik/motorik, bahasa, sosial-emosional dan seni. Panduan dalam Menu Besar ini akan dikembangkan oleh tiap PAUD, berdasarkan kebutuhan dan kemampuan masing-masing PAUD.

Selain tidak menggunakan kurikulum baku, PAUD juga ditujukan untuk kalangan ekonomi miskin. Karena biasanya PAUD tidak menarik iuran sekolah atau menarik iuran dengan jumlah yang sangat kecil. Hal ini untuk memenuhi hak pendidikan anak, mendapatkan pendidikan dasar secara cuma-cuma (Pasal 31 Konvensi Hak Anak).

Namun di beberapa PAUD, setelah berjalan dengan tidak adanya penarikan biaya, dikarenakan biaya operasional biasanya merupakan sumbangan dari berbagai pihak di masyarakat, ternyata mengalami beberapa kendala. Misalnya sumbangan yang didapat hanya dapat memenuhi bahan belajar murid, namun hal lain seperti honor para pendidik tidak dapat terpenuhi. Padahal, para pengajar PAUD seringkali memerlukan uang transport untuk menjangkau PAUD yang dibina. Selain itu, para orangtua murid juga meminta adanya rekreasi bersama atau pemakaian baju seragam. Dan untuk kebutuhan seperti ini, PAUD seringkali tidak memiliki dana. Kemudian, beberapa PAUD akhirnya menarik iuran sekolah. Tentunya iuran ini tidak bisa besar jumlahnya, karena para murid PAUD berasal dari keluarga miskin. Rata-rata mereka mengeluarkan sekitar 1000 perhari (dengan jam belajar hanya 2-3 kali seminggu) atau 10.000 per bulan.

Pemerintah melalui Departemen Pendidikan Nasional terutama Direktorat Jendral Pendidikan Luar Sekolah (PLS), sebetulnya sudah menyediakan dana untuk operasional PAUD. Namun dana yang ada ternyata tidak mencukupi kebutuhan operasional seluruh PAUD. Akhirnya dilakukan secara bergilir, pengguliran dana tersebut, dengan cara mengajukan proposal.

Dari masalah pembiayaan yang terjadi di PAUD tersebut, apabila berdasarkan DUHAM Pasal 26 tadi, maka akan terjadi kontradiksi. Pemenuhan hak pendidikan seharusnya gratis, namun kenyataannya belum bisa gratis. Bahwa untuk memenuhi hak pendidikan secara penuh, ternyata masih diperlukan biaya yang harus dikeluarkan oleh masyarakat. Sebetulnya, masalah seperti itu tidak harus terjadi jika pemerintah melakukan upaya-upaya pemenuhan hak pendidikan dengan maksimal.

Pertama, pemerintah seharusnya memasukkan PAUD berusia dibawah 7 tahun sebagai suatu pendidikan dasar, yang harus dipenuhi pada warganegaranya, sehingga PAUD menjadi salah satu prioritas pemenuhan pendidikan dasar sesuai UU yang berlaku. Kedua, anggaran pendidikan tersendiri, tidak disatukan dengan anggaran kesehatan dan jumlahnya seharusnya terbesar dari pengeluaran negara lainnya didalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Ketiga, dialokasikannya anggaran pendidikan yang terbesar jumlahnya dari pengeluaran daerah lainnya dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Keempat, pengumpulan dana pajak atau retribusi dari perusahaan-perusahaan yang berada di wilayah PAUD, yang dilakukan oleh pemerintah setempat misalnya tiap kelurahan atau desa, yang dipergunakan terutama untuk pembiayaan pendidikan dasar, baik PAUD, TK, TPA, SD, MI sampai tinkat SMP. Dan yang terakhir, pengumpulan dana swadaya masyarakat, baik dilakukan oleh LSM atau masyarakat sendiri, terutama di tujukan untuk pemenuhan pendidikan bagi warganya sendiri.

Dengan adanya kerjasama, peran serta dan kejujuran semua pihak, untuk mencerdaskan bangsa, terutama anak-anak, maka hak pendidikan tingkat dasar dapat dipenuhi secara maksimal. Kita pun dapat melihat anak-anak, dari keluarga manapun, terutama keluarga miskin, terpenuhi hak pendidikannya. Pada tingkat selanjutnya, pendidikan yang berkualitas kemudian dapat menjadi rencana bersama, setelah hak pendidikan tingkat dasar tersebut terpenuhi.

Diyah Wara Restiyati
sumber: http://www.sekitarkita.com/more.php?id=638_0_1_0_M

Monday, 4 May 2009

Kerangka Dasar Kurikulum Pendidikan Anak Usia Dini

Tim Pengembang:

Pusat Kurikulum
Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini
Direktorat Pembinaan TK dan SD
Universitas Negeri Jakarta

DERPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL
2007

DAFTAR ISI

Bab I . Pendahuluan

A. Latar Belakang
B. Tujuan
C. Sasaran
D. Ruang Lingkup

Bab II . Landasan Pendidikan Anak Usia Dini

A. Landasan Yuridis
B. Landasan Filosofis
C. Landasan Keilmuan

Bab III . Hakikat Pendidikan Anak Usia Dini

A. Pengertian
B. Tujuan
C. Prinsip-prinsip

Bab IV. Standar Kompetensi Anak Usia Dini

A. Pengertian
B. Standar Kompetensi

Bab V. Pengembangan Kurikulum Pendidikan Anak Usia Dini

A. Pengertian
B. Prinsip Pengembangan Kurikulum
C. Ruang Lingkup Kurikulum
D. Komponen Kurikulum
E. Pengembangan Kurikulum pada Satuan Pendidikan

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Memasuki milenium ke tiga Indonesia dihadapkan pada tantangan untuk menyiapkan masyarakat menuju era baru, yaitu globalisasi yang menyentuh semua aspek kehidupan. Dalam era global ini seakan dunia tanpa jarak. Komunikasi dan transaksi ekonomi dari tingkat lokal hingga internasional dapat dilakukan sepanjang waktu. Demikian pula nanti ketika perdagangan bebas sudah diberlakukan, tentu persaingan dagang dan tenaga kerja bersifat multi bangsa. Pada saat itu hanya bangsa yang unggullah yang anak mampu bersaing.

Pendidikan merupakan modal dasar untuk menyiapkan insan yang berkualitas. Menurut Undang-undang Sisdiknas Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Menurut UNESCO pendidikan hendaknya dibangun dengan empat pilar, yaitu learning to know, learning to do, learning to be, dan learning to live together.

Pada hakikatnya belajar harus berlangsung sepanjang hayat. Untuk menciptakan generasi yang berkualitas, pendidikan harus dilakukan sejak usia dini dalam hal ini melalui Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), yaitu pendidikan yang ditujukan bagi anak sejak lahir hingga usia 6 tahun. Sejak dipublikasikannya hasil-hasil riset mutakhir di bidang neuroscience dan psikologi maka fenomena pentingnya PAUD merupakan keniscayaan. PAUD menjadi sangat penting mengingat potensi kecerdasan dan dasar-dasar perilaku seseorang terbentuk pada rentang usia ini. Sedemikian pentingnya masa ini sehingga usia dini sering disebut the golden age (usia emas).

Dengan diberlakukannya UU No. 20 Tahun 2003 maka sistem pendidikan di Indonesia terdiri dari pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi yang keseluruhannya merupakan kesatuan yang sistemik. PAUD diselenggarakan sebelum jenjang pendidikan dasar. PAUD dapat diselenggarakan melalui jalur pendidikan formal, nonformal, dan/atau informal. PAUD pada jalur pendidikan formal berbentuk Taman Kanak-kanak (TK), Raudatul Athfal (RA), atau bentuk lain yang sederajat. PAUD pada jalur pendidikan nonformal berbentuk Kelompok Bermain (KB), Taman Penitipan Anak (TPA), atau bentuk lain yang sederajat. PAUD pada jalur pendidikan informal berbentuk pendidikan keluarga atau pendidikan yang diselenggarakan oleh lingkungan.

Dalam upaya pembinaan terhadap satuan-satuan PAUD tersebut, diperlukan adanya sebuah kerangka dasar kurikulum dan standar kompetensi anak usia dini yang berlaku secara nasional. Kerangka dasar kurikulum dan standar kompetensi adalah rambu-rambu yang dijadikan acuan dalam penyusunan kurikulum dan silabus (rencana pembelajaran) pada tingkat satuan pendidikan. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan.

B. Tujuan

Tujuan kerangka dasar kurikulum pendidikan anak usia dini adalah kerangka dasar yang dijadikan sebagai acuan bagi lembaga pendidikan anak usia dini dalam mengembangkan kurikulum tingkat satuan pendidikan.

C. Sasaran

Sasaran kerangka dasar ini adalah lembaga-lembaga penyelenggara PAUD jalur pendidikan formal dan nonformal seperti Taman Kanak-Kanak, Raudatul Athfal, Kelompok Bermain,Taman Penitipan Anak, dan Satuan PAUD yang sejenis.

D. Ruang Lingkup Penulisan

Kerangka dasar ini terdiri dari bab I Pendahuluan, bab II Landasan Pendidikan Anak Usai dini, bab III. Hakikat Pendidikan Anak Usai Dini, bab IV Standar Kompetensi Anak Usia Dini, bab V Struktur Kurikulum Pendidikan Anak Usia Dini, bab VI Penilaian Kurikulum, dan bab. VII Penutup.

BAB II
LANDASAN PENDIDIKAN ANAK USIA DINI

A. Landasan Yuridis

1. Dalam Amandemen UUD 1945 pasal 28 B ayat 2 dinyatakan bahwa ”Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi”.

2. Dalam UU NO. 23 Tahun 2002 Pasal 9 Ayat 1 tentang Perlindungan Anak dinyatakan bahwa ”Setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasarnya sesuai dengan minat dan bakatnya”.

3. Dalam UU NO. 20 TAHUN 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab 1, Pasal 1, Butir 14 dinyatakan bahwa ”Pendidikan Anak Usia Dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia 6 tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut”. Sedangkan pada pasal 28 tentang Pendidikan Anak Usia Dini dinyatakan bahwa ”(1) Pendidikan Anak usia dini diselenggarakan sebelum jenjang pendidikan dasar, (2) Pendidkan anak usia dini dapat diselenggarakan melalui jalur pendidkan formal, non formal, dan/atau informal, (3) Pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal: TK, RA, atau bentuk lain yang sederajat, (4) Pendidikan anak usia dini jalur pendidikan non formal: KB, TPA, atau bentuk lain yang sederajat, (5) Pendidikan usia dini jalur pendidikan informal: pendidikan keluarga atau pendidikan yang diselenggarakan oleh lingkungan, dan (6) Ketentuan mengenai pendidikan anak usia dini sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan ayat (4) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.”

B. Landasan Filosofis

Pendidikan merupakan suatu upaya untuk memanusiakan manusia. Artinya melalui proses pendidikan diharapkan terlahir manusia-manusia yang baik. Standar manusia yang “baik” berbeda antar masyarakat, bangsa atau negara, karena perbedaan pandangan filsafah yang menjadi keyakinannya. Perbedaan filsafat yang dianut dari suatu bangsa akan membawa perbedaan dalam orientasi atau tujuan pendidikan.

Bangsa Indonesia yang menganut falsafah Pancasila berkeyakinan bahwa pembentukan manusia Pancasilais menjadi orientasi tujuan pendidikan yaitu menjadikan manusia indonesia seutuhnya.Bangsa Indonesia juga sangat menghargai perbedaan dan mencintai demokrasi yang terkandung dalam semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang maknanya “berbeda tetapi satu.” Dari semboyan tersebut bangsa Indonesia juga sangat menjunjung tinggi hak-hak individu sebagai mahluk Tuhan yang tak bisa diabaikan oleh siapapun. Anak sebagai mahluk individu yang sangat berhak untuk mendaptkan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya. Dengan pendidikan yang diberikan diharapkan anak dapat tumbuh sesuai dengan potensi yang dimilkinya, sehingga kelak dapat menjadi anak bangsa yang diharapkan. Melalui pendidikan yang dibangun atas dasar falsafah pancasila yang didasarkan pada semangat Bhineka Tunggal Ika diharapkan bangsa Indonesia dapat menjadi bangsa yang tahu akan hak dan kewajibannya untuk bisa hidup berdampingan, tolong menolong dan saling menghargai dalam sebuah harmoni sebagai bangsa yang bermartabat.

Sehubungan dengan pandangan filosofis tersebut maka kurikulum sebagai alat dalam mencapai tujuan pendidikan, pengembangannya harus memperhatikan pandangan filosofis bangsa dalam proses pendidikan yang berlangsung.

3. Landasan Keilmuan

Landasan keilmuan yang mendasari pentingnya pendidikan anak usia dinii didasarkan kepada beberapa penemuan para ahli tentang tumbuh kembang anak. Pertumbuhan dan perkembangan anak tidak dapat dilepaskan kaitannya dengan perkembangan struktur otak. Menurut Wittrock (Clark, 1983), ada tiga wilayah perkembangan otak yang semakin meningkat, yaitu pertumbuhan serabut dendrit, kompleksitas hubungan sinapsis, dan pembagian sel saraf. Peran ketiga wilayah otak tersebut sangat penting untuk pengembangan kapasitas berpikir manusia. Sejalan dengan itu Teyler mengemukakan bahwa pada saat lahir otak manusia berisi sekitar 100 milyar hingga 200 milyar sel saraf. Tiap sel saraf siap berkembang sampai taraf tertinggi dari kapasitas manusia jika mendapat stimulasi yang sesuai dari lingkungan.

Jean Piaget (1972) mengemukakan tentang bagaimana anak belajar:“ Anak belajar melalui interaksi dengan lingkungannya. Anak seharusnya mampu melakukan percobaan dan penelitian sendiri. Guru bisa menuntun anak-anak dengan menyediakan bahan-bahan yang tepat, tetapi yang terpenting agar anak dapat memahami sesuatu, ia harus membangun pengertian itu sendiri, dan ia harus menemukannya sendiri.” Sementara Lev Vigostsky meyakini bahwa : pengalaman interaksi sosial merupakan hal yang penting bagi perkembangan proses berpikir anak. Aktivitas mental yang tinggi pada anak dapat terbentuk melalui interaksi dengan orang lain. Pembelajaran akan menjadi pengalaman yang bermakna bagi anak jika ia dapat melakukan sesuatu atas lingkungannya. Howard Gardner menyatakan tentang kecerdasan jamak dalam perkembangan manusia terbagi menjadi: kecerdasan bodily kinestetik, kecerdasan intrapersonal, kecerdasan interpersonal, kecerdasan naturalistik, kecerdasan logiko – matematik, kecerdasan visual – spasial, kecerdasan musik.

Dengan demikian perkembangan kemampuan berpikir manusia sangat berkaitan dengan struktur otak, sedangkan struktur otak itu sendiri dipengaruhi oleh stimulasi, kesehatan dan gizi yang diberikan oleh lingkungan sehingga peran pendidikan yang sesuai bagi anak usia dini sangat diperlukan.

BAB III
HAKIKAT PENDIDIKAN ANAK USIA DINI

1. Pengertian

Pendidikan Anak Usia Dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.

2. Tujuan

Secara umum tujuan pendidikan anak usia dini adalah mengembangkan berbagai potensi anak sejak dini sebagai persiapan untuk hidup dan dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya.

3. Prinsip-Prinsip Pendidikan Anak Usia Dini

Dalam melaksanakan Pendidikan anak usia dini hendaknya menggunakan prinsip-prinsip sebagai berikut :

a. Berorientasi pada Kebutuhan Anak

Kegiatan pembelajaran pada anak harus senantiasa berorientasi kepada kebutuhan anak. Anak usia dini adalah anak yang sedang membutuhkan upaya-upaya pendidikan untuk mencapai optimalisasi semua aspek perkembangan baik perkembangan fisik maupun psikis, yaitu intelektual, bahasa, motorik, dan sosio emosional.

b. Belajar melalui bermain

Bermain merupakan saran belajar anak usia dini. Melalui bermain anak diajak untuk bereksplorasi, menemukan, memanfaatkan, dan mengambil kesimpulan mengenai benda di sekitarnya.

c. Lingkungan yang kondusif

Lingkungan harus diciptakan sedemikian rupa sehingga menarik dan menyenangkan dengan memperhatikan keamanan serta kenyamanan yang dapat mendukung kegiatan belajar melalui bermain.

d. Menggunakan pembelajaran terpadu

Pembelajaran pada anak usia dini harus menggunakan konsep pembelajaran terpadu yang dilakukan melalui tema. Tema yang dibangun harus menarik dan dapat membangkitkan minat anak dan bersifat kontekstual. Hal ini dimaksudkan agar anak mampu mengenal berbagai konsep secara mudah dan jelas sehingga pembelajaran menjadi mudah dan bermakna bagi anak.

e. Mengembangkan berbagai kecakapan hidup

Mengembangkan keterampilan hidup dapat dilakukan melalui berbagai proses pembiasaan. Hal ini dimaksudkan agar anak belajar untuk menolong diri sendiri, mandiri dan bertanggungjawab serta memiliki disiplin diri.

f. Menggunakan berbagai media edukatif dan sumber belajar

Media dan sumber pembelajaran dapat berasal dari lingkungan alam sekitar atau bahan-bahan yang sengaja disiapkan oleh pendidik /guru.

a. Dilaksanakan secara bertahap dan berulang –ulang

Pembelajaran bagi anak usia dini hendaknya dilakukan secara bertahap, dimulai dari konsep yang sederhana dan dekat dengan anak. Agar konsep dapat dikuasai dengan baik hendaknya guru menyajikan kegiatan–kegiatan yang berluang .

BAB IV
STANDAR KOMPETENSI ANAK USIA DINI

A. Pengertian

Standar kompetensi anak usia dini adalah standar kemampuan anak usia 0-6 tahun yang didasarkan pada perkembangan anak. Standar kompetensi ini digunakan sebagai acuan dalam mengembangkan kurikulum anak usia dini.

B. Standar Kompetensi Anak Usia Dini

Standar kompetensi anak usia dini terdiri atas pengembangan aspek-aspek sebagai berikut:

1. Moral dan nilai-nilai agama
2. Sosial, emosional, dan kemandirian
3. Bahasa
4. Kognitif
5. Fisik/Motorik
6. Seni

BAB V
PENGEMBANGAN KURIKULUM
TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN ANAK USIA DINI

A. Pengertian

Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan belajar serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelengaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.

B. Prinsip-prinsip Pengembangan

1. Bersifat komperhensif

Kurikulum harus menyediakan pengalaman belajar yang meningkatkan perkembangan anak secara menyeluruh dalam berbagai aspek perkembangan .

2. Dikembangkan atas dasar perkembangan secara bertahap.

Kurikulum harus menyediakan berbagai kegiatan dan interaksi yang tepat didasarkan pada usia dan tahapan perkembangan setiap anak. Program menyediakan berbagai sarana dan bahan untuk anak dengan berbagai kemampuan.

3. Melibatkan orang tua

Keterlibatan orang tua sebagai pendidik utama bagi anak. Oleh karena itu peran orang tua dalam pendidikan anak usia dini sangat penting dalam pelaksanaan pendidikan.

4. Melayani kebutuhan individu anak.

Kurikulum dapat mewadahi kemampuan, kebutuhan,minat setiap anak.

5. Merefleksikan kebutuhan dan nilai masyarakat

Kurikulum harus memperhatikan kebutuhan setiap anak sebagai anggota dari keluarga dan nilai-nilai budaya suatu masyarakat.

6. Mengembangkan standar kompetensi anak

Kurikulum yang dikembangkan harus dapat mengembangkan kompetensi anak. Standar Kompetensi seabagi acuan dalam menyiapkan lingkungan belajar anak.

7. Mewadahi layanan anak berkebutuhan khusus

Kurikulum yang dikembangkan hendaknya memperhatikan semua anak termasuk anak-anak yang berkebutuhan khususus.

8. Menjalin kemitraan dengan keluarga dan masyarakat

Kurikulum hendaknya dapat menunjukkan bagaimana membangun sinegi dengan keluarga dan masyarakat sehingga tujuan pendidikan dapat tercapai

9.Memperhatikan kesehatan dan keselamatan anak

Kurikulum yang dibangun hendaknya memperhatikan aspek keamanan dan kesehatan anak saat anak berada disekolah

10.Menjabarkan prosedur pengelolaan Lembaga

Kurikulum hendaknya dapat menjabarkan dengan jelas prosedur manajemen /pengelolaan lembaga kepada masyarakat sebagai bentuk akuntabiitas.

11. Manajemen Sumber Daya Manusia

Kurikulum hendaknya dapat menggamabarkan proses manajemen pembinaan sumber daya manusia yang terlibat di lembaga

12.Penyediaan Sarana dan Prasarana.

Kurikulum dapat menggambarkan penyediaan srana dan prasaran yang dimiliki lembaga.

C. Komponen Kurikulum

a. Anak

Sasaran layanan pendidikan Anak usia dini adalah anak yang berada pada rentang usia 0 – 6 tahun. Pengelompokan anak didasarkan pada usia sebagai berikut :

1) 0 – 1 tahun
2) 1 – 2 tahun
3) 2- 3 tahun
4) 3 - 4 tahun
5) 4- 5 tahun
6) 5 - 6 tahun .

b. Pendidik

Kompetensi Pendidik anak usia dini memiliki kualifikasi akademik sekurang-kurangnya Diploma Empat (D-IV) atau Sarjana (S1) di bidang pendidikan anak usia dini, kependidikan lain, atau psikologi; dan memiliki sertifikasi profesi guru PAUD atau sekurang - kurangnya telah mendapat pelatihan pendidikan anak usia dini. Adapun rasio pendidik dan anak adalah

1) Usia 0 – 1 tahun rasio 1 : 3 anak
2) Usai 1 – 3 tahun rasio 1 : 6 anak
3) Usia 3 - 4 tahun rasio 1 : 8 anak
4) Usia 4 - 6 tahun rasio 1 : 10 /12 anak

c. Pembelajaran

Pembelajaran dilakukan melalui kegiatan bermain yang dipersiapkan oleh pendidik dengan menyiapkan materi ( content ), dan proses belajar. Materi belajar bagi anak usia dini dibagi dalam 2 kelompok usia.

Materi Usia lahir sampai 3 tahun meliputi:

1). Pengenalan diri sendiri ( Perkembangan konsep diri)
2). Pengenalan perasaan (Perkembangan emosi)
3). Pengenalan tentang Orang lain (Perkembangan Sosial)
4). Pengenalan berbagai gerak (perkembangan Fisik)
5). Mengembangkan komunikasi (Perkembangan bahasa)
6). Ketrampilan berfikir (Perkembangan kognitif)

Materi untuk anak usia 3 – 6 tahun meliputi :

1) Keaksaraan mencakup peningkatan kosa kata dan bahasa, kesadaran phonologi, wawasan pengetahuan, percakapan, memahami buku-buku, dan teks lainnya.

2) Konsep Matematika mencakup pengenalan angka-angka, pola-pola dan hubungan, geometri dan kesadaran ruang, pengukuran, pengumpulan data, pengorganisasian, dan mempresentasikannya.

3) Pengetahuan Alam lebih menekankan pada objek fisik, kehidupan, bumi dan lingkungan.

4) Pengetahuan Sosial mencakup hidup orang banyak, bekerja, berinteraksi dengan yang lain, membentuk, dan dibentuk oleh lingkungan. Komponen ini membahas karakteristik tempat hidup manusia, dan hubungannya antara tempat yang satu dengan yang lain, juga hubungannya dengan orang banyak. Anak-anak mempelajari tentang dunia dan pemetaannya, misalnya dalam rumah ada ruang tamu, ruang tidur, kamar mandi, dapur, ruang keluarga, ruang belajar; di luar rumah ada taman, garasi, dll. Setiap rumah memiliki tetangga dalam jarak dekat atau jauh.

5) Seni mencakup menari, musik, bermain peran, menggambar dan melukis. Menari, adalah mengekspresikan ide ke dalam gerakan tubuh dengan mendengarkan musik, dan menyampaikan perasaan. Musik, adalah mengkombinasikan instrumen untuk menciptakan melodi dan suara yang menyenagkan. Drama, adalah mengungkapkan cerita melalui aksi, dialog, atau keduanya. Seni juga mencakup melukis, menggambar, mengoleksi sesuatu, modeling, membentuk dengan tanah liat atau materi lain, menyusun bangunan, membuat boneka, mencap dengan stempel, dll.

6) Teknologi mencakup alat-alat dan penggunaan operasi dasar. Kesadaran Teknologi. Komponen ini membahas tentang alat-alat teknologi yang digunakan anak-anak di rumah, di sekolah, dan pekerjaan keluarga. Anak-anak dapat mengenal nama-nama alat dan mesin yang digunakan oleh manusia sehari-hari.

7) Ketrampilan Proses mencakup pengamatan dan eksplorasi; eksperimen, pemecahan masalah; dan koneksi, pengorganisasian, komunikasi, dan informasi yang mewakili.

Untuk mewadahi proses belajar bagi anak usa dini pendidik harus dapat melakukan penataan lingkungan main, menyediakan bahan–bahan main yang terpilih, membangun interaksi dengan anak dan membuat rencana kegiatan main untuk anak. Proses pembelajaran anak usia dini dilakukan melalui sentra atau area main. Sentra atau area tersebut bisa disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi dari masing-masing satuan Pendidikan. Contoh sentra atau area bermain tersebut antara lain : Sentra Balok, Sentra Bermain Peran, Sentra Seni, Sentra Musik, Sentra Persiapan, Sentra agama, dan Sentra Memasak.

d. Penilaian (Assesmen)

Assesmen adalah proses pengumpulan data dan dokumentasi belajar dan perkembangan anak. Assesmen dilakukan melalui : observasi, konfrensi dengan para guru, survey, wawancara dengan orang tua, hasil kerja anak, dan unjuk kerja. Keseluruhan penilaian /assesmen dapat di buat dalam bentuk portofolio.

e. Pengelolaan Pembelajaran

1). Keterlibatan Anak
2). Layanan program

Lembaga Pendidikan anak usia dini dilaksnanakan sesuai satuan Pendidikan masing-masing. Jumlah hari dan jam layanan :

(a) Taman Penitipan Anak (TPA) dilaksanakan 3 – 5 hari dengan jam layanan minimal 6 jam. Minimal layanan dalam satu tahun 144 -160 hari atau 32 – 34 minggu.

(b) Kelompok Bermain (KB) setiap hari atau minimal 3 kali seminggu dengan jumlah jam minimal 3 jam. Minimal layanan dalam satu tahun 144 hari atau 32 - 34 minggu.

(c) Satuan PAUD Sejenis (SPS) minimal satu minggu sekali dengan jam layanan minimal 2 jam. Kekurangan jam layanan pada SPS dilengkapi dengan program pengasuhan yang dilakukan orang tua sehingga jumlah layanan keseluruhan setara dengan 144 hari dalam satu tahun.

(d) Taman Kanak-Kanak (TK) dilaksanakan minimal 5 hari setiap minggu dengan jam layanan minimal 2,5 jam. Layanan dalam satu tahun 160 hari atau 34 minggu.

Layanan pembelajaran pada masing-masing satuan pendidikan anak usia dini mengikuti kalender pendidikan daerah masing-masing.

f. Melibatkan Peranserta masyarakat

Pelaksanaan pendidikan anak usia dini hendaknya dapat melibatkan seluruh komponen masyarakat. Penyelenggaraan pendiikan anak usai dini dapat dilakukan oleh swasta dan pemerintah , yayasan maupun perorangan.

E. Satuan Pendidikan Anak Usia Dini.

Kerangka dasar Kurikulum digunakan pada pendidika anak usia dini jalur formal maupun jalur non formal yaitu : Taman Kanak-Kanak/ Raudhatul Athfal, Taman Penitipan Anak, Kelompok Bermain, dan Satuan PAUD Sejenis.

a. Taman Kanak adalah salah satu bentuk satuan pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal yang menyelenggarakan program pendidikan bagi anak usia empat tahun sampai enam tahun. Sasaran Pendidikan Taman Kanak-Kanak adalah anak usia 4 - 6 tahun, yang dibagi ke dalam dua kelompok belajar berdasarkan usia yaitu Kelompok A untuk anak usia 4 - 5 tahun dan Kelompok B untuk anak didik usia 5 - 6 tahun.

b. Kelompok Bermain adalah salah satu bentuk PAUD pada jalur pendidikan non formal yang menyelenggarakan program pendidikan sekaligus program kesejahteraan bagi anak usia 2 sampai dengan 4 tahun. Sasaran KB adalah anak usia 2 - 4 tahun dan anak usia 4 - 6 tahun yang tidak dapat dilayani TK (setelah melalui pengkajian dan mendapat rekomendasi dari pihak yang berwenang).

c. Taman Penitipan Anak adalah layanan pendidikan yang dilaksanakan pemerintah dan masyarakat bagi anak usia lahir - 6 tahun yang orang tuanya bekerja. Peserta didik pada TPA adalah anak usia lahir - 6 tahun.

d. Satuan PAUD Sejenis (SPS) adalah layanan minimal merupakan layanan minimal yang hanya dilakukan 1-2 kali/minggu atau merupakan layanan PAUD yang diintegrasikan dengan program layanan lain. Peserta didik pada SPS adalah anak 2-4 tahun.

BAB VI
PENILAIAN KURIKULUM

Evaluasi / Penilaian adalah suatu analisis yang sistimatis untuk melihat efektifitas program yang diberikan dan pengaruh program tersebut terhadap anak. Penilaian kurikulum dilakukan secara berkala dan berkesinambungan oleh Pusat maupun Daerah. Penilaian kurikulum dimaksudkan untuk mngetahui sejauh mana kurikulum dilaksanakan dan kesesuainnya dengan kerangka dasar fungsi dan tujuan pendiikan nasional serta kesesuaian dengan tuntutan perkembangan yang terjadi di masyarakat. Hasil penilaian kurikulum digunakan untuk menyempurnakan pelaksanaan dan mengembangkan kurikulum selanjutnya.

http://hidayatsoeryana.wordpress.com/2008/05/05/kerangka-dasar-kurikulum-paud-lengkap/

Renungan :

Setiap Anak terlahir JENIUS. Kadang 6 tahun pertama, para orang tua membuatnya tidak menjadi jenius.
(Bukminster Fuller)

MATAHARI EDUCARES